Pembangunan Pedesaan, Lampu Togok Menemani Wawa Menghafal

Oleh: Suryandika
Hanya lampu togokPASAMAN
– “Ini Budi, ibu Budi pergi ke pasar, tiba di pasar ibu Budi membeli telur, telur direbus dalam kuali, kualinya hitam sekali.”
Begitulah Wawa, seorang bocah lelaki kelas I SD terbata-bata belajar membaca di rumahnya malam hari bermodal penerangan hanya sebuah lampu togok (lampu minyak -red) yang telah usang. Sesekali terlihat ia menggosok matanya. Ia adalah warga Desa Kampung Baru Sawah Ujung, Buah Keras, Keca­matan Dua Koto, Pasaman, sekitar 50 Km Lubuk Sikaping arah Talu.Wawa anak pasangan Abdul dan Eng ini, belajar ditemani oleh kakak-kakaknya, Nawir, Melia dan Sesi. Kampung itu sepi. Maklum di tengah sawah. Tak terdengar apa-apa, hanya angin malam yang mendesau. Dari rumah papan, tempat mereka tinggal, membias cahaya lampu minyak. Pucuk api diayunkan angin yang masuk serampangan.
Wawa, sudah hafal suasana seperti itu. Jika angin masuk, ia menghambat dengan punggung telapak tangannya, agar api di lampun­ya tidak padam. Tapi, sering angin datang amat cepat. Maka padam­lah lampu minyak itu.
Wawa hidup tanpa televisi, kesehariannya adalah keseharian yang sederhana. Buku yang dibacanya adalah buku-buku ytang dipinjam dari sekolah.
Wawa sesekali menggosok matanya, karena perih karena asap hitam. Asap itu juga masuk ke lobang hidung, bahkan menempel di pipi. Ayahnya, Abdul memang punya alat penerangan lain, yaitu senter, tapi tak bisa dipakai untuk membaca, karena akan cepat menghabis­kan baterai. Buku pelajarannya temaram di bawah sinar lampu togok tanpa cim­porong (semprong) itu. Kadang, cahanya mengecil, lalu ia memutar sumbu lewat tuas yang ada di sisi lampu.  Sebenarnya bukan Wawa sendirian yang merasakan seperti itu, tapi juga semua anak-anak di desa ini. Tak jarang keesokan harinya di sekolah mereka ditertawakan teman-teman karena muka coreng-moreng ulah asap lampu togok. Namun apa daya mereka, itulah nasib. Semua itu ulah listrik yang tak ada sebagai sumber penerangan. PLN tak kunjung menghampiri kampung mereka.

Dari perjalanan Singgalang Senin (18/2) siang menelusiri kampung itu tampak di depan sebuah rumah mungil berukuran 3 x 6 meter, seorang pria duduk melamun sendirian. Dia seolah begitu menikmati kepulan asap rokok kretek yang dihisapnya, hingga tak sadar terdengar suara tangisan bayi dari dalam rumah.  Ia Nerlip 30, satu dari puluhan warga penghuni kampung itu. Nerlip kebetulan sedang libur menyadap karet di ladangnya. Hari-hari liburnya, ia gunakan untuk melamun sendirian sambil meman­dangi hamparan sawah yang ada di depan rumahnya.  “Habis mau apa lagi, cuma ini yang bisa saya lakukan bila sedang di rumah. Kami tidak punya listrik, jadi tidak bisa mendengarkan radio atau menonton televisi. Kalau siang hari beginilah kondi­sinya, tapi kalau malam hari ya gelap gulita,” ujar Nerlip kepada Singgalang yang menghampirinya.

Terkait persoalan belum tersambungnya listrik di Kampung Baru Sawah Ujung itu, menurut Nerlip, sebenarnya warga sudah bolak-balik mengadukan hal itu kepada aparat di pemerintahan Jorong dan Nagari. Wali jorong kabarnya telah mengadu pula ke tingkat kabu­paten. Namun hingga kini belum juga ada solusi.  “Jangankan ke kantor desa atau kecamatan, ke tingkat kabupaten pun telah mengadu. Tapi apa kenyataannya, sampai sekarang tetap saja aliran listrik tidak masuk ke kampung kami,” ujar Nerlip yang dibenarkan oleh tetangganya, Sangkot. Hal yang sama juga dikatakan Menan. Menurutnya beberapa kali usul mereka pernah direspon. Terakhir informasinya, pihak PLN mau memasukkan listrik ke kampung itu asalkan ada sekitar 10 rumah penduduk yang menjadi pelanggan. Permintaan itu terpenuhi. Warga sudah mulai bersiap-siap menanti kehadiran listrik. “Bahkan sudah ada warga yang sudah membeli bola lampunya,” kata Menan. Namun itu tinggal janji, entah apa musabab pihak PLN tak pernah muncul lagi, janji listrik bisa masuk asal ada 10 pelanggan hilang begitu saja, tanpa penjelasan. Isu listrik akan dimasuk juga timbul pada saat masyarakat masih menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT), dana bantuan tersebut nanti akan langsung dipotong guna membayar biaya pemasangan listrik. “ Namun itu hanya bohong belaka juga, jadi seolah-olah kami warga ini dipermainkan pihak PLN,” Keluh Menan yang pernah jadi kandidat wali jorong ini.  Miris memang melihat kondisi perkampung ini. Kesunyian malam bertambah saat melihat hanya lampu-lampu togok bersinar remang-remang di rumah-rumah penduduk. Tak jauh dari sana,  di kampung sebelah yang telah teraliri listrik hanya berjarak sekitar 500 meter. Selain itu jalan menuju ke kampung tersebut sudah bisa dilalui mobil walaupun kondisi jalan masih kerikil bercampur tanah. Padahal kampung ini salah satu pusat ekonomi Jorong Harapan Rakyat, hamparan sawah yang luas ada di kawasan kampung ini. Beberapa buah Usaha Kecil Menen­gah (UKM) milik penduduk ada di sana, tapi itu semua jadi tak berkembang karena harus dikerjakan manual. Ada alatnya yang otomatis tapi tak ada penggeraknya, yakni listrik.***

4 Tanggapan

  1. Ada sesuatu…

  2. ahado kbr di sibodak

  3. halo suryandika apa kbr. kl masalah lampu togok kt telah mengalami nasib yg sama(sarupo de hita) karena jarak rumah kita hanya gah bolak aja yang memisah kn nya. Mudah2n anggi2, dht babere nta tdk merasakan apa yg kt rasakan dulu.

  4. tunggu masyarakat duakoto…..sabar aja belum cukup uang masuk pemerintah kita.ntar lebih pasti diperbaiki semua yang kurang di masyarakat kita.

    putra andilan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: