Dua Koto Dalam Realitanya

Petani Dua KotoKecamaPetani Dua KotoPetani Dua KotoPetani Dua Kototan Dua Koto Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat merupakan salah satu kecamatan yang paling banyak huPetani Dua KotoPetani Dua Kototan lindungnya. Sehingga perekonomian masyarakat didaerah ini kurang begitu beruntung, begitu juga dengan perkembangan daerahnya.Daerah yang berbatasan sebelah barat dengan Kecamatan Talamau dan sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Panti selama ini telah terbenam ditengah kepentingan alam, disisi manapun hanya hutan lindung. 
Penduduk daerah ini mayoritas petani sawah. Hidup mereka yang terkenal dengan gotong royongnya menjadikan satu sama lainnya saling bahu membahu menyelesaikan persoalan di kampung masing-masing.  Penduduk dengan 100 persen beragama Islam adalah keturunan marga namun mempunyai adat minangkabau dengan rajanya yang terkenal raja Sontang. Seorang raja asal daerah mandailing yang menikah dengan keturunan minang. Akhirnya demi menghargai raja dengan ratunya maka diambillah kesimpulan untuk hukum dan adat dipakai adat minangkabau sedangkan bahasa memakai mahasa Mandailing. Sebagai orang dua koto soal budaya dan bahasa tidak menjadi persoalan bagi mereka. Toh itu urusan orang dulu-dulu, namun yang terpenting bagi mereka sekarang bagimana mereka bisa terangkat ke permukaan kemajuan. Di tengah era globalisasi sekarang ini kecamatan ini seolah diam ditambah dengan keterpurukannya dari kemajuan. Sekian lama menjadi kecamatan sendiri sebelumnya bagian dari kecamatan Talamau, sekian lama pula pergerakan ekonomi masyarakat hanya jalan ditempat. Tidak ada kemajuan yang signifikan. Begitu juga kemajuan teknologinya, semuanya semu tidak ada yang maksimal.  Sawah terbentang luas didaerah ini hanya bisa untuk mencukupi pangan bagi penduduk sendiri. Selain itu hanya kebun-kebun karet yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun sebagai penompang hidup mereka. Jari-jari kekar maupun kerdil hanya lincah memainkan pisau penyadap karet. Tidak ada pengetahuan mereka lagi selain dari mata pisau sadap itu.  Bagai mana lagi sekarang????Peran pemerintah disini seharusnya yang megambil alihnya. Secara kasat mata memang pemerintah tidak akan pernah menemukan yang namanya kelaparan didaerah ini, karena hidup mereka yang saling tolong meolong. Namun secara detail banyak kepiluan yang terjadi disetiap individu. Boleh ditanya, mereka mau jadi petani sejati, tapi boleh ditanya pula mereka akan lebih suka menjadi petani  sejati yang modern, dan mendapat perekembangan teknoligi sesuai dengan zaman. Mereka mengharap perhatian, bimbingan. Ibarat anak sekolah, daerah ini masih kelas satu, masih perlu bimbingan detail untuk bisa mereka bergerak. Butuh support yang jelas.  Saya mau tanya pemerintah Kabupaten Pasaman, bagaimana cara kita mengeluarkan kecamatan ini dari keterpurukannya????Tegakah kita membiarkan mereka selamanya dalam keterbelakangan zaman???
Orang pintar dari daerah ini banyak yang sukses. Namun tak satupun yang mau berkiprah untuk kampungnya. Semua sombong ….angkuh memarkirkan mobil mewahnya ketika sesekali pulang kampong. Tanpa ia sadari saudaranya ternyata melarat….. Andika

Satu Tanggapan

  1. Botul dei dongan, i ma urangna pemerintahan tai. seakan tutup mata sajo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: