Pantang Mengemis Justru jadi Jutawan

Masih ingat dengan perjalanan hidup Buyuang Feri (45) yang buta dan Nila
(70), amai -sapaan akrab untuk ibunya- yang dimuat koran ini,
pertengahan April 2006? Ternyata, kehidupan yang dijalani dengan iklas,
pantang menyerah dan (ini yang lebih penting dalam prinsipnya,-red)
pantang untuk mengemis, justru menghadirkan ending bagaikan kisah
sinetron. Keduanya, kini menjadi jutawan.
Ini bukan kisah sinetron. Di alam nyata, inilah yang terjadi. Dalam
pahitnya kehidupan, ternyata masih ada anak manusia yang dijalani dengan
penjiwaan tanpa mengeluh. Baca selebihnya »

Marga Itu Apa?

oleh Abdoellah Loebis 

Perkataan ìmargaî atau clan itu asalnya dari bahasa Sanskrit, varga iaitu warna. Marga itu bermakna ìkelompok atau puak orang yang berasal dari satu keturunan.î (1) Sehingga kini cuma beberapa kerat sahaja orang Mandailing Malaysia yang memakai nama marga mereka seperti amalan orang Arab memakai nama suku dan orang Tionghua memakai nama seh mereka.  Antara mereka yang memakai nama marga ialah Prof. Madya Haji Muhammad Bukhari Lubis, seorang pensyarah dan penulis yang banyak menghasilkan tulisan-tulisan mengenai tasawwuf. Barangkali kepada pendengar radio dan penonton tv, nama Mandailing yang paling terkenal ialah penyanyi dan juruhebah, Rubiah Lubis.   Baca selebihnya »

Marga-Marga Mandailing

Orang-orang Mandailing mengelompokkan diri mereka dalam beberapa marga, sebagai keturunan daripada seorang tokoh nenek moyang. Masing-masing kelompok marga mempunyai seorang tokoh nenek moyangnya sendiri yang “berlainan asal”. Pendek kata, masyarakat Mandailing merupakan kesatuan beberapa marga yang berlainan asalnya.
  Silsilah keturunan itu dinamakan tarombo dan sampai sekarang masih banyak disimpan oleh orang-orang Mandailing sebagai warisan turun-temurun yang dipelihara baik-baik. Melalui tarombo, orang-orang Mandailing yang semarga mengetahui asal-usul dan jumlah keturunan mereka sampai ini hari. Melalui jumlah keturunan dapat diperhitungan sudah berapa lama suatu kelompok marga mendiami wilayah Mandailing. Baca selebihnya »

Marga Nasution

Orang-orang Mandailing bermarga Nasution meyakini mereka adalah keturunan Si Baroar yang pada masa bayinya ditemukan di tengah hutan oleh Sutan Pulungan raja dari Huta Bargot di Mandailing Godang. Versi lain mengatakan bahwa “Nasution yang pertama kiranya adalah putera dari Raja Iskandar Muda dari Pagar Ruyong (pusat dari kerjaan Minangkabau kuno), yang pada gilirannya adalah cucu dari Sultan Iskandar, nama bagi Alexander de Grote (the Great) dalam cerita-cerita Indonesia. Baca selebihnya »

Silsilah

Satu-satunya data yang dapat dipergunakan untuk menghitung usia marga-marga yang terdapat di Mandailing ialah tarombo kerana ia mencatat setiap generasi sesuatu marga dari nenek moyang masing-masing. Dalam pada itu, jurai keturunan itu terkadang meragukan kerana beberapa tarombo daripada marga tertentu sering berselisih jumlah generasi yang tercatat di dalamnya.Kalau diperhitungkan berdasarkan tarombo marga Nasution mempunyai 19 sundut atau keturunan, maka dapat ditaksirkan bahwa marga Nasution sudah bertempat di Mandailing selama kira-kira 475 tahun. Perkiraan ini didasarkan pada taksiran 25 tahun untuk satu generasi. Sejak bila marga Nasution mulai berkuasa di Mandailing Godang, tidak dapat dipastikan. Sementara tarombo marga Lubis mengandungi 22 sundut. Ini menunjukkan bahwa keturunan Namora Pande Bosi telah bertempat tinggal di Mandailing selama kira-kira 550 tahun, yakni sejak abad ke 15 lagi, yakni kalau diperhitungkan 25 tahun satu generasi. Bagaimanapun sejak bila marga Lubis mula berkuasa di Mandailing Julu tidak diketahui dengan pasti.***

Tambo Radja Radja Mandailing

Adapoen jang dinamai Mandailing itoe, adalah terbahagi atas doea bahagian: pertama Groot Mandailing dan Patang Natal: kedoea Klein Mandailing Oeloe dan Pakantan. Djoega radja radja pada kedoea loehak itoe berbahagi atas doea soekoe; jaitoe, radja radja Mandailing Besar bersoekoe “Nasoetion”, (nasaktion): ertinja soekoe kiramat, di Mandailing ketjil ialah soekoe (Loebis), maka nama soekoe loebis itoe, jang diambilnja dari pada nama sesaorang orang Poelau Soeloe namanja Si Angin Boegis, klak akan datang bitjaranja.  Sekarang soedah 17 soendoet orang, telah laloe, adalah kedapatan diloehak Mandailing ini, doea radja yang termasjhoer; pertama Soetan Perampoen di Padang Garoegoer; kedoea Soetan Poeloengan di Oeta Bargot.  Alkesah terseboetlah soeatoe riwajat, pada soetoe hari, pergilah Soetan Poeloengan radja Oeta Bargot jang terseboet berboeroe roesa, dengan beberapa pengiringnja. Takdir Allah menjalaklah andjingnja, jang bernama Sampaga-Toea, maka bereboetlah segala pengiringnja mengedjar perboeroean itoe, tiba tiba dilihat merikaitoe kiranja saorang anak laki-laki jang disalak andjing itoe, terletak diatas batoe, jang diboengkoes dengan kain soetera pelangi, dibawah sepoehoen kajoe beringin. Maka anak itoepoen diambil oranglah dan dibawak kepada Soetan Poeloengan, selaloe dibawak poelang ke kampoeng dan diberikan kepada saorang boedak perampoean namanja Saoewa, maka dipiaranjalah anak itoe dengan sepertinja.  Baca selebihnya »

Cerita Rakyat Tentang Marga Siregar dan Bonabulu Huta Sibadoar

-Mogot Laut gelar Tor Lalo Dipartuan Raja Sutan Parlindungan
Asa jolmana siboru tindang panungkunan adat tuan laen bolon, na mora sari matua oloan, sinuan boyu ni Raja sian Sipahutar tano Humbang. Nampuna pusako “Hujur Siburnung” na ni ondamkon tu musu hona burnung; ulubalangna margoar: Ulubalang Lapung na mondol-ondol. Membuka perkampungan pahulu Aek Lampesong (anak sungai Aek Siguti); letaknya tidak jauh dari Huta Paranjulu – Sipirok yang dinamakan Bonabulu Hosana (setelah ditinggalkan dinamakan Lobu Hasona). Beliau meninggal dan dimakamkan di Bonabulu Hasona.Turunannya generasi ke-3, yang bernama Dipartuan Mangaraja Mangalempang membuka perkampungan baru di hulu anak sungai Aek Siguti yang disebut Aek Batu Tunggal yang disebut Baringin Tumburjati, ganop langka mamorjati, na marparrapotan Asar ni Kak na marsopo gonjang sopo ratcang sio dalom magodang. Pada tahun 1969 “saring-saring” (tulang belulang) dari Mogot Laut gelar Tor Lalo Muda Dipertuan Raja Sutan Parlindungan oleh turunannya di “okkal” dari Lobu Hasona ke Baringin. Baca selebihnya »

TAMBO PASAMAN “: ADAIK LAMO PUSAKO USANG”

 “Ramo-ramo sikumbang janti
katik endah pulang ba kudo.
Patah tumbuah ilang baganti
Pusako pulang ka nan mudo”

Kaba barito didapek, dari nan tuo ditarimo, itu pitua nan dipaciak, munuik nan dipegang dari dahulu sampai kini. Siang buliah di patungkek, malam buliah dipakalang, manuruik adai di Pasaman.
Batuang sabatang dari hulu, tumbuah di Koto Sibuluan. Urek dilingka Nago Sati, batang dililik ula gerang, pucuak sirah ampalu kuniang, rantiang ampek, kalopaknyo ampek, dahannyo rompak daunnyo rimbun.
 Barambuih angin dari timua, malembai lalu kalauiktan. Barambuih angin dari barat, malembai lalu ka Gunuang Gadang. Serak baserai bau bungo, Bungo Karang Sari Manyari. Tumbuah dipuncak gunuang gadang, ditapi kolam Rajo Dewo. Pamenan Puti Ganggo Aman, datang nan dari Banaruhun. Simpang balahan Tanah Basa, cucuran Rajo Ampek Jurai. Nan balayia dilapiak pandak, dibao iyu Parang Gadang. Tapasah lalu kadaratan, kasandiang Gunuang Pasaman. Kacontiang Gunuang Talak Mau. Diantaro ujuang Karang Gadang, dengan Ulak Batu Kuduang. Batu batagak sakuduang, jatuah kalauitan. Babateh dengan Rajo Aceh. Indak Bataluak tampek tingga, dilautan Koto Pasaman. Baca selebihnya »

Asal Usul Nagari Cubadak

NAGARI Cubadak Kecamatan Duo Koto adalah satu dari 32 Nagari di Kabupaten Pasaman. Nagari ini mempunyai luas wilayah 23.207 KM yang berbatasan dengan Nagari Simpang Tonang sebelah Utara, sebelah Selatan dengan Kecamatan Talamau Kab. Pasaman Barat, sebelah Timur dengan Kecamatan Panti dan Kecamatan Lubuk Sikaping, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Gunung Tuleh.Nagari ini memiliki ciri khas tersendiri, yang tidak dimiliki oleh nagari lain. Penduduknya mayoritas Mandahiling. Bahasa yang digunakan Bahasa Mandahiling pula dengan logat terkenalnya kanen. Sementara dalam adatnya mereka memakai adat Minang Kabau. Dalam sistem perkawinan memakai adat sumando.  Hal ini sejarahnya diawali dari Pemerintahan pertama Raja Sontang beserta kaumnya di koto tinggi terletak 1,5 Km dari Ulu Sontang sekarang. Raja pertama bernama Raja Gunung Maleha di Koto Tinggi selanjutnya Raja Sipahutar, kemudian Raja Labiah dan barulah sejak itu bernama Raja Sontang. Baca selebihnya »