Batak kah Mandailing Itu….????

Banyak sejarah yang mengatakan Mandailing bukan Batak, tetapi banyak pula orang Batak yang menyanggahnya. Mereka gotot Mandailing merupakan sub bagian dari Batak.

LALU BAGAIMANA DENGAN ANDA, MANA MENURUT ANDA YANG BENAR. BATAK ATAU TIDAKKAH MANDAILING ITU????, SEBAGAI ORANG MANDAILING KITA HARUS PUNYA IDENTITAS JANGAN MAU DI PLESETKAN.

64 Tanggapan

  1. Ya Batak lah Mandailing itu, ga diragukan lagi

    • Mandailing itu bukan Batak. Tetapi Batakitu yangharus disebut Mandailing. Bicaralah berdasarkan bukti sejarah, dimana tempat dan tokoh yang membuktikan bahwa komunitas etnis mandailing pernah menetap dan menghasilkan budaya di tanah Batak. Orang Mandailing sendiri sejak ratusan tahun lalu sudah mengenal budaya, lihat beberapa penionggalan sejarah budaya mandailing di daerah pesisir sebagai tempat mula manusia membangun sebuah peradaban, Anda akan melihat langsung dan sadar bahwa Mandailinglah pertama ada di Sumatera Timur ini dari ada orang yang disebut Batak. Oknum orang Bataklah yang meniru dan mengklaim Mandailig itu bagiannya, tanpa malu…. Hanya saja sifat dasar orang Mandailing memang kurang percaya diri… Saya tanya kembali, apakah ada bukti sejarah berusia ratusan tahun di tano Batak, buktikan. JAdi, kalau tak ada, mengapa kita harius per\caya kalau orang Mandailing itu berasal dari sana, kapan perginya..?

      • seharusnya anda membaca pernyataan pengetua pengetua serta raj raja kuria 17 orang dr mandailing menytakan bahwa orang mandailing ita sub etnis batak

  2. plasat-pleset.. otak kau saja yang sudah meleset!

    Sudah jelas kali Mandailing itu 100% batak!

  3. Assamualaikum
    HORAS

    Aku selalu dibilang oleh keluarga (orangtua dan sodara-sodara sekaum dan sisolkot) bahwa suku bangsa kita ini berasal dari Batak , dan juga semua suku yang berada di daerah Tapanuli, walaupun berbeda agama atau keyakinan kita adalah satu keluarga besar.
    Jadi tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa Mandailing bukan bagian dari Batak. Mandailing, Toba Angkola,Sipirok,Karo atau SImalungun semuanya adalah BANGSO BATAK.
    Aku dulu,sekarang dan selamanya bangga menjadi orang Batak, tepatnya Batak Mandailing

    HORAS

  4. He sobatku Gumanti Lubis

    Saya tidak menyangkal kalau Mandailing itu adalah Batak. Maksudku jangan mau di plesetkan, karena opini tetang asal usul Mandailing itu sangat banyak sekali. Ada yang bilang 100 persen Mandailing itu bukan Batak, seperti yang banyak juga tersebar di internet dan pendapat dari orang Mandiling itu juga, sebagian lagi termasuk anda bilang Mandailing 100 persen Batak. Kalau demikian kenapa anda diam saja, kenapa tidak anda cekal yang bilang Mandailing itu bukan Batak. Anda sebagai orang mandailing dan merasa seharusnya mempertahankan harga diri itu, Di sini maksud saya diplesetkan, ……

  5. mohon bantuannya, saya sedang mencari silsilah keluarga lubis, ada yang punya info tentang data tsbt? tarimo kasih

  6. mandailing ya batak lah…
    kata siapa mandailing bukan batak???
    cm orang benga yg bilang mandailing bukan batak…
    batak itu banyak bung…
    ya salah satu nya ya mandailing lah…
    kita sebagai orang batak harus bersatu bung…
    mau karo,toba,mandailing atau apa lah…
    pokok nya tetap satu, yaitu batak…
    horas lae…

  7. Salam,

    Saya juga sedang mencari silsilah keluarga moyang saya, dikenali Pendekar Hitam yg berhijrah ke Semenanjung Tanah Melayu sekitar 300thn dulu (?). Apa benar Mandailing ada yg berdarah pendekar? Kalau ada, apa marganya?

  8. jangan mau di bodo2 in orang eks batak yg di malaysia….

    mereka2 itu adalh keturun pengecut… yg kabur ke malaysia karena suatu masalah…

    ayo semua sub etnis batak bersatu… kita ganyang manusia eks batak di malaysia …

    BATAK BERSATU… KARENA BATAK ITU KEREN

  9. Horas ……
    Ciek Koto ,Duo Koto, Tigo Koto,
    Siapa yang kehilangan Identitas, Urus ajalah Duo Koto. Pindah ajalah ke mandailing jangan di Duo koto aja., biar tau kau secara keseluruhan Batak mandailing itu.
    Mandailing = Batak.

  10. horas.. horas….

    au bangga dohot suku batak..
    aku tidak ragu mengatakan mandailing itu batak
    harana di toba pe adong do marga lubis, marga hasibuan, marga harahap, marga matondang, siregar,
    molo nasution = (Siahaan, Simanjuntak, Pohan, Hutagaol)
    ulang hita maila tu asal-usul molo masalah agama namarbeda i masalah keyakinan dei..

    sasakali porlu do hita mangaligi tu daerah toba dohot manyapai halak toba asal-usul ni mandailing ulang hita ruba asal-sul ta….
    inda bisa manuk di uba manjadi bebek..
    sekali batak tetap batak ga akan jadi orang minang dan minahasa. atau india

    aku ga malu mengatakan bahwa aku orang batak
    batak itu kreeen batak itu maju..

    horas mandailing .. tano batak nauli..

    wassalau alaikum wr. wb katuh

  11. batak = anjing & babi
    mandailing = OK !!!

    • woi bodat….gak ada otakmu….
      percuma kaw tau internet….seharusnya banyak yang bisa kau pelajari…janganlah buat sengketa….
      jangan bokep aja kau buka……

    • Assalamu ‘alaikum Wr.Wb

      Bandit Pasaman…. tolong ucapan Anda di cabut kembali dan minta maaf. Karena kalo dilihat dari postingan Anda dan cara Anda menyampaikan argumentasi tidak selayaknya orang berpendidikan. Saya sebagai orang mandailing di Rokan Hulu – Riau sangat tersinggung dengan penyampaian Anda karena walo bagaimanapun antara mandailing dan batak itu tetap satu batang tubuh. Artinya Mandailing = Batak. Coba Anda lihat Suku Quraisy di tanah Arab dan hubungannya dengan Islam. Saya juga muslim bung …. tapi saya bangga menjadi seorang batak mandailing. Jadi Mandiling tetap = Batak. Molo memang hurang pade hi bandit pasaman ni, tapor baba nai lae, so i boto ia jolo sanga ise dope mandailing/batak.

    • anda memang betul bBANDIT ALIAS MALING COPET yg tdk punya sopan santun mungkin faktor genetik kali yAAAAAAA. UTK ANDATAU DI TAPANULI ITU ADAT DALIHAN NATOLAH YG MENGIKAT KEKERABATAN ORANG TAPANULI/BATAK TANPA MEPERSOALKAN AGAMA.

    • omm debat boleh2 ajj,, tpi pake etika kau,, macam bapak kau ajj yang jadi raja di portibi ini,,,
      kalau daya pikir kau lemah jangan ikut2an tau kau…
      jangan mancing keributan kau,, etnis batak itu akur, bahkan jadi contoh tuk kehidupan beragama di indonesia,, patenlah nama kau ya pake bandit pasaman dimana bisa kita jumpa,,,

    • BANDIT PASAMAN
      klau kau mmg punya MARGA hapus pernyataan kau itu dan mintak maaf ma ORANG BATAK sedunia,,,
      kalau nggak kusumpahin oppung mu rap aya dohot ummak mu masok NARAKO,,,
      jelas kali kau orang yang dekradasi moral ketika kau berada di kawasan mi**ng,.. BATAK itu terdiri dari beberapa bagian,,,,,
      DUA KOTO” kau kaum intelek atau sok intelektual…?!
      jangan kau sok ILMIAH kalau kadar pengetahuan mu lemahhh,,,,, terus kalau menurut mu MANDAILING ITU bukan batak lANtas apa taikk,,,?
      mikir ya sebelum bertindak,,,,!i
      apapun yang kau sampaikan semua menurut isi perutmu n kepentinganmuuu bukanlah seajrah atau ilmiah ,,,

    • sekalipun anda tidak mengakui mandailing itu sub etnis batak ttakperlulah anda memaki maki atau menyebut batak itu anjing dan babi.,itu menunjukkan bahwa anda seorang tdk bermoral,hanya krn batak toba pd umumnya kristen.dgn begitu anda bukan penganut islam sejati,alias islam teklek..

  12. Horas juga teman2
    . . .
    Kalian semua boleh aja bangga dg menjadi seorang BATAK,
    boleh ajja ngatain Batak itu keren,
    tapi kalian juga kasihan karna pada umum nya kalian tidak tau sesungguhnya yg benar2 batak,
    masa satu suku beda agama,
    berarti batak yang kalian banggakan udah gag murni lagi.
    Udah ada campur tangan agama yg bukan asli batak,
    kalo memang batak itu keren,
    buktikan kalo kalian bisa mencari tau , apa keyakinan yg asli orang batak

    • Kalo Anda menanyakan masalah kemurnian batak, sekarang saya coba balik tanya, Coba Anda cari tahu Abdul Muthalib itu memakai suku apa dan agamanya apa ? begitu pula dengan Nabi Muhammad SAW suku apa dan agamanya apa ?. Jadi permasalahan antara suku dan agama itu beda.

      Suku itu adalah aliran darah keturunan.

      Agama itu adalah kepercayaan dan keyakinan terhadap rab nya.

      Artinya suku, ras, etnik dan bangsa boleh beda, tapi kepercayaan/agama yang tidak boleh diganggu gugat.

      karena itu merupakan keimanan yang tertanam dalam hati seseorang.

      Horass…..

    • bayu kalau kuliah jangan hanya membahas ideologi, tapi pelajarilah sos,bud,hukum, etc
      jadi g’ ngasal kalau ngomong,,, nilai lah secara objektif tapi jgn subjektif,,, ala lee
      botulma jolma nabaru mangida ari natorang koo….!i

  13. Horas Bayo Sati,

    Masalah agama terjadi beberapa ratus tahun ini saja. Batak Toba jadi Kristen setelah 1865 (lebih kurang). Itu artinya, terjadi sekitar 150 tahun lalu. Sementara kesukuan kita sebagai Batak adalah menyangkut darah keturunan. Sebagai perbandingan: Seorang Yahudi bisa saja jadi Islam, Kristen, atheis, etc. Tapi darah mereka tetap Yahudi. Atau, Demikian juga tentang orang India, Cina, dan lain-lain. mereka bisa saja jadi agama apa, tapi darah (atau tapatnya genetiknya adalah India, Cina, dan lain-lain).

    Hari ini saya bisa saja menganut agama tertentu, mungkin besok anak saya menikah dengan orang yang tidak seagama dengan saya dan anak saya mengikut kekasihnya, apa lantas anak saya bukan lagi orang Batak? Tentu saja dia orang Batak sekalipun dia Islam, Kristen, Hindu, Budha (baru-baru ini, anak perempuan saudara saya menikah dengan Cina, dia jadi agama Budha). Jadi, kebatakan yang kita bicarakan di sini bukanlah menyangkut agama, karena agama yang ada saat ini di Indonesia semuanya tidak ada yang dari Tanah Batak atau tidak ada agama asli orang Batak.

    Bigitu kira-kira logika berpikirnya. Mauliate.

  14. yang bilang:

    batak = anjing & babi
    mandailing = OK !!!

    punya otak kayak anjing atau babi. Jadi bisa disimpilkan “bandit pasaman” itu bagaikan seekor anjing atau babi!

    Mana sih otak lu? gw asal dari Padang Sidempuan selalu bangga jadi orang Batak Mandailing!

    Batak itu suku,

    Mandailing itu wilayah,
    Toba itu wilayah,
    Angkola itu wilayah,

    Batak Mandailing itu sub suku Batak,
    Batak Toba itu sub suku Batak,
    Batak Angkola itu sub suku Batak,

    Islam itu agama,
    Kristen itu agama,
    Ugamo Malim itu agama,
    >Agama itu adalah kepercayaan masing2 orang terhadap Tuhannya.

    Sapi itu hewan,
    Anjing itu hewan,
    Babi itu hewan,
    Ayam itu hewan,
    >Ada hewan yang boleh dimakan oleh suatu agama ada juga yang dilarang untuk dimakan.

    Kalo ada orang yang mengatas namakan suatu agama untuk mengidentitaskan suatu suku, artinya orang itu justru tidak punya agama atau orang itu punya IQ nya rendah!

  15. Hebat, meski berbeda persepsi harus tetap DAMAI. .

    Horas

  16. wadoh… koq ada yang kasar amat sih ngomong..

    ingin memecah belah ya…

    tidak bisa… karena orang sumut itu dah civilized.. kalau anda orang sumut dan masih berfikiran seperti itu, artinya anda suda sedikit tertinggal..

    kejarlah ketertinggalan itu dengan berbuat baik…

    geli aja gua

  17. Kasian ada orang yg blg Mandailing bukan Batak.Itu jls2 org bodoh.Itu krn dia jd warga kls 4 di Malaysia alias kls budak di Malaysia!!!Kasian deh loooooooo!!! Makanya bertobat&kembali ke Indonesia!!!!!

  18. Assalamu alaikum,

    ulang maila,
    Kalau orang yang bermukim di distric mandailing bukan suku batak, Kenapa Bahasa mandailing hampir sama dengan Bahasa Toba9Yang di klaim orang batak),dimaso Menek au di huta, inda unjung i dokon molo karisten, Batak, biasona idokon Toba, Karena Kebanyakan orang dari wilayah Toba itu Agamanya Kristen, setahu saya mereka kristen setelah raja sisingamangaraja kalah oleh belanda, jadi belanda-lah yg membuat mereka memeluk agama kristen.
    Di perantauan , Pada umumnya bila disebut Batak, identik dengan Kristen, itulah yang membuat sebagian orang Mandailing menyatakan dirinya bukan orang batak, padahal dia tidak mengetahui :
    Mandailing itu = Wilayah
    Batak = Suku
    Sama seperti di jawa:
    Jawa : Suku
    Yogya : Wilayah
    Kedu : Wilayah
    Kediri : Wilayah
    Semoga wawasan anda lebih terbuka…bagi yang mengklaim orang Mandailing bukan suku batakbatak

  19. terserah…mau dibilang apa, mandailing, toba, samosir atau apapun bentuknya, Batak ya Batak, anjing ya anjing,,,,,berarti batak=anjing.

  20. Seseorang disebut BATAK bila :
    1. Berbudaya Batak = Dalihan Natolu.
    2. Darah Batak = Turunan si Raja Batak (dari ayah keatas atau dari ibu keatas). Bila anda punya salah satu saja hal diatas anda adalah Batak Tulen. dimanapun anda berada, apapun agama anda, apapun warna kulit anda.
    Batak itu identik/tentang Budaya dan Genetika.
    Definisi di atas adalah hasil Seminar Nasional Nilai Luhur Habatahon, pada Horas 50 Tahun Indonesia Merdeka, di JHCC Jakarta.

  21. Si Batak, from Anjing to Kerbau
    oleh Angin Petang

    Gerakan Aktivis Muda Minang
    http://groups.yahoo.com/group/aktivis_minang/message/6005

    Seperti banyak orang minang yang tumbuh dan besar di
    kampung, saya naturally tidak punya kesan dan persepsi
    yang bagus tentang orang batak.

    Batak adalah kafir pemakan anjing. Tentu juga makan babi,
    tidak beradat, maling, perampok, mabuk, dan ujung titit
    tidak dipotong, adalah hal-hal lainnya yang worth to
    mention.

    Tentu berbeda sekali dengan orang Minangkabau yang islami,
    beradat dan santun, serta berbudaya.. Berbeda sekali
    dengan orang Minang yang katanya berpendidikan dan
    berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Orang batak adalah
    kaum yang malang berbudaya rendah dan sayangnya juga
    mantiko, menyebalkan dan berpeluang besar jadi sampah
    masyarakat.

    Mungkin tidak hanya saya, banyak batak sendiri yang
    mencoba membangun jarak dengan kebatakan mereka. Lihatlah,
    betapa mandailing, angkola, dan juga sebagian karo atau
    dairi-pakpak mencoba memutuskan asosiasi dengan kebatakan
    mereka. Bahkan, banyak yang terang-terangan di pantai
    timur menjelma menjadi melayu.

    Namun, belakangan, banyak hal-hal baru tentang orang batak
    yang saya ketahui. Nggak semua batak jadi kernet bus,
    banyak yang jadi sopir juga, dan sekaligus pemiliknya.
    Banyak juga batak yang motong ujung tititnya, nggak makan
    anjing, nggak makan celeng. Banyak batak yang rajin ke
    mesjid, bernama arab, dan berjilbab ria. Banyak batak yang
    mentereng, wangi, mengkilat, dan gak berjigong. Banyak
    batak jadi camat, lurah, menteri, bupati, gubernur,
    rektor, dan pengusaha. Banyak batak yang cantik jelita,
    tampan rupawan, ganteng rumanteng.

    Di Bandung, saat nyasar sekolah di jurusan dan fakultas
    top di kampus yang katanya paling tob se Indonesia, saya
    baru menyadari betapa banyak batak cerdas berseliweran.
    Kalau minang perantauan diexcluded, surely lebih banyak si
    batak pintar di kampus ini daripada si minang. Batak-batak
    ini tak hanya senang bergitar, mereka juga pintar
    bernyanyi bersama dalam paduan suara harmonis. Dan saya
    nggak sempat lihat mereka makan anjing, malah pada rajin
    ke restoran padang.

    Selain berambut hitam, berjakun, dan berpantat dua, banyak
    kenalan dekat batak saya yang berhati lembut, santun, dan
    pemurah hati. Ingin rasanya saya menuliskan nama-nama
    teman lama batak itu di sini.

    The reality is… tertinggal beratus-ratus kilometer di
    belakang, batak melaju kencang, dan dengan mantap menyalip
    Minang yang senang berlenggak-lenggok seperti banci dengan
    pantun-pantun dan ayat-ayat al quran berhahasa arab kuno
    itu.

    Di Jakarta, batak menyelip di antar ratusan pedagang
    minang, dan menggeser pelan-pelan, bahkan mendominasi di
    beberapa titik. Lebih banyak pengusaha baru sukses batak
    dari pada minang. Lebih banyak insinyur berkualitas batak
    dari minang. Lebih banyak eksekutif baru batak daripada
    minang. Jangan ditanya pengacara, hakim dan jaksa Lebih
    banyak batak jadi politikus dan birokrat daripada Minang.
    O iya, ada Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dll…iya, di abad
    lalu…

    Penulis dan sastrawan? Chairil Anwar, Sutan Takdir
    Alisjahbana, Idris, Adinegoro, etc? Masih untung masih ada
    Pak Habe dan Pak Edizal. Dan yang jelas semakin banyak
    perempuan cantik lebih tergila-gila pada batak sukses,
    regardless ujung titit mereka dipotong atau tidak,
    daripada Padang bau rendang.

    Ada beberapa nama Minang yang mencoba terseok-seok
    menyaingi Batak, tapi mereka lebih minang perantauan yang
    tidak terikat pada nilai-nilai primitif minang.

    Yang tersisa? yang tersisa bagi orang minang adalah
    keirian, setidaknya bagi minang seperti saya. Tidak
    gampang mengubah perspective yang sudah built-in tentang
    kaum inferior bernama batak, pemakan anjing, titit
    berujung, perampok, pemabok, dan yes kafir…Yang ada adalah
    keirian. Ini sangat berat bagi orang Minang, menghadapi
    kenyataan menyakitkan ini.

    Tapi hari demi hari, saya makin simpati pada barisan batak
    ini. Saya melihat kejayaan orang Minangkabau masa lalu
    pada kaum pemakan celeng ini. Cerita kesuksesan kaum
    minoritas Minangkabau di masa lalu, terulang pada kaum
    Batak.

    Menolak adat dan kebiasaan yang tidak sesuai jaman dan
    tidak produktif; belajar dan mengadopsi peradaban,
    kebudayaan, dan pengetahuan baru dari Eropa atau Timur
    Tengah; kritis, berani berbicara dan bertindak; membuka
    mata, telinga, dan hati lebar-lebar… semuanya adalah
    pondasi kesuksesan orang Minangkabau di masa lalu. Hal
    yang dilupakan telak-telak oleh orang Minangkabau
    sekarang, diambil alih dengan mantap oleh orang batak.
    Orang minang senang meringkuk dalam tempurung adat
    bersyandi syarak, dan syarak bersandi kitabullah itu.
    Rajin menghapal pantun-pantun dan ayat alquran berbahasa
    arab, dan berpegang padanya erat-erat, very tightly.Tidak
    punya nyali dan titit untuk melangkah keluar dari
    tempurung kecil berselimut sabut kelapa jamuran itu.

    Setiap kali saya membaca koran, majalah, internet, dan
    menonton tivi..saya seperti melihat Muhammad Hatta dengan
    marga Situmorang sedang berbicara atau dibicarakan, saya
    seperti melihat Sutan Sjahrir dengan marga Panggabean; M
    Natsir Simbolon, M Yamin Pangaribuan, Agus Salim
    Butar-Butar, Adinegoro Hutabarat, Chairil Anwar Harahap,
    Sutan Takdir Alisjahbana Simanjuntak, Marah Rusli Siagian,
    Rohana Kudus Napitupulu, Rasuna Said Siregar, Abdul Muis
    Tobing, Tan Malaka Marpaung, Buya Hamka Pardede….

    Menurut majalah Tempo, 6 dari 10 tokoh Indonesia paling
    berpengaruh di abad 20 adalah kaum minoritas Minangkabau.
    Quite possibly, untuk abad 21, enam dari sepuluh tokoh itu
    adalah dari kaum minoritas Batak.
    Nampaknya, mimpi saya untuk melihat orang Minangkabau
    membangkit batang terendam, mengulangi kejayaan masa lalu
    tercapai sudah, melalui kaum Batak kafir pemakan anjing
    ini.

    Tapi, sebaiknya saya berhenti mengasosikan Batak dengan
    anjing, baiknya lah dengan kabau alias kebo. Kerbau adalah
    simbol kemenangan orang Minang di masa lalu=
    ‘Minangkabau’. Namun, kini orang Batak jelas lebih berhak
    memanggulnya…Batakkabau!

    Saya berharap ada kaum Batakkabau yang menerima saya
    menjadi bagiannya, dengan senang hati saya rubah suku
    Sikumbang ini menjadi marga Simatupang.

    —————————————
    htpp://anginpetang.wordpress.com

    Re: Si Batak, from Anjing to Kerbau

    Oleh Sangkakala

    Aktivis Muda Minang

    Orang Batak… saya lumayan banyak bergaul dgn orang-orang dgn ras
    ini…

    Pada dasarnya sifat mereka ini kareh angok, terus terang dan dgn aksen
    suara bergaung meninggi agak meletup-letup… tampang dan postur lebih
    proporsional sep orang-orang eropa (jangan-jangan mereka-mereka orang
    batak ini yg keturunan dari alexander yg terdampar dipulau sumatera
    dan mengasingkan diri disekitar danau toba)… Toh moyang mereka
    dulunya kanibalisme pemakan daging manusia dan juga penikmat anjing yg
    mengingatkan saya ttg sifat eropa nazi pemakan manusia… juga doyan
    tuak dgn lapo-lapo tuak dan suka ribut dgn terakhir mati konyollah
    abdul azis angkat si ketua DPRD Sumatera Utara oleh orang-orang asal
    dari ras ini..

    Dari karakter mereka agak lebih terbuka dan sedikit punya naluri
    kebinatangan seperti layaknya ras eropa yg punya energi mau menang
    sendiri dgn otak encer dan suka buka suara apa adanya… coba lihat
    gaya dari pengacara-pengacara papan atas kita yg terlihat garang,
    juga banyak artis-artis cantik indonesia yg kawin dgn binatang-
    binatang dari ras ini yg suka cumbui wanita dan terlihat jantan juga
    doyan cumbui wanita.. ini memang belum sebuah kesimpulan sahih, perlu
    pendalaman penelitian lebih lanjut….

    Sementara orang Minang yg kabarnya bertali darah Alexander the Great,
    nyatanya banyak yg berpostur rendah semampai dgn bahu bulat dan pipi
    tembem, meramah-ramahkan diri, perasa, juga berbicara lemah lembut,
    sedikit pelit, penuh pertimbangan, yg kalo berantem kedepankan dulu
    perang mulut dan lalu lari kalo diajak berantem beneran (maaf tidak
    termasuk saya yg kalo diajak bacakak ayo saja, apalagi kalo cakak
    suara alias debat.. saya dah biasa)

    Tapi khusus soal bacakak atau berkelahi dulunya orang Minang termasuk
    salah satu suku jagoan di Nusantara, lihat perang Paderi yg sudahlah
    kita dikeroyok Orang Eropa dan budak-budak afrika dgn koordinatori
    oleh urang Ulando, juga dikeroyok pula oleh orang-orang senusantara
    mulai dari orang jawa, bugis, ambon, dan termasuk si batak pemakan
    mayat, nyatanya perang Paderi berlangung selama 24th mulai dari thn
    1821 hingga 1845 walau Bonjol telah jatuh thn 1837)…. Ini bukti
    mampunya orang minang dulu soal lego pagai alias perang habis-
    habisan…

    Sementara soal doyan perempuan, orang minang dulu memang jago, kontras
    dgn minang sekarang yg berbini satu saja… dan daya Imajinasi orang-
    orang dulu agak lebih unggul dabanding sekarang.. terlihat dari begitu
    banyaknya pujangga-pujangga asal Minang yg berurai cerita ttg cinta
    dan inisiator-inisiator asal minang yg ambil Inisiatif dalam
    pergerakan kemerdekaan..

    Dan ttg uang, dari dulu-dulunya orang-orang kita amat penuh kerinduan
    ttg yg satu ini, sehingga banyak yg suka dagang, senang bissniss dan
    berniaga.. sampai sekarang masih banyak yg berprofesi pedangang dan
    bisnismen yg walau kaki limanya disapu oleh si keparat sutiyoso yg
    ninik mamak orang minang se jakarta, tapi berbagai belahan pulau Jawa
    lain masih ditemui banyak pedagang-pedagang asal tanah minang, dan
    anehnya ada juga yg berprofesi mengandalkan lututnya bukan otaknya
    yaitu tukang becak.. ini saya temui di daerah indramayu…

    Tapi sayang pola bissniss sebagian besar orang Minang masih berpola
    tradisional belum memakai manajemen bissniss modern… Kita lihat
    pewaralaba dan franchisee asal Jawa dan Sunda lebih unggul dibanding
    orang Minang.. Juga konglomerat dan pebissnis internasional asal
    Indonesia malahan dipegang jawa juga dgn Sunda mulai naik, plus
    pedangang-pedagang bugis juga termasuk beberapa pebisniss asal tanah
    batak…

    Walau demikian banyak juga orang jawa yg ngomong satu-satunya pribumi
    yg bisa bersaing dgn orang cina adalah orang minang.. dan pernah
    kemarin saya berdiskusi dgn pebissnis ras cina, dia akui juga orang
    Minang pintar bisnis layaknya orang cina dan dia ngomong orang padang
    dan orang batak kalo dagang pakai otak layaknya orang cina…
    sementara orang jawa berbisnis pakai hari tangal baik, pakai susuk,
    penglaris dan klenik, orang minang pakai bismillah dan perhitungan-
    perhitungan otak..( saya kurang yakin juga ttg yg satu ini, orang
    Minang masih pakai penglaris juga, dan malah masih juga ada yg gagal
    dan pulang kembali kekampung)

    Karakter orang Minang sepertinya susah bekerja sama dgn banyak orang
    dan lebih suka main sendiri, kelola sendiri dan makan sendiri..ini yg
    bikin bisniss orang minang susah berkambang dahsyat.. padahal untuk
    maju, kita mesti juga bikin maju orang lain.. bisnis maju tersebab
    daya beli orang-orang yg naik. kalau orang lain tidak maju maka tidak
    ada daya beli dan bisnis orang minang tidak akan berkembang pesat..
    Dan segi manajemen modern tidak dipelajari sepenuhnya dan masih
    berpola bisnis gaya lama yg kekeluargaan dgn satu tangan pengelola..
    padahal bisnis kalo mau besar mesti berani mendelegasikan atau
    mempercayakan pada orang-orang…

    Orang-orang batak yg dilihat akan mendahului orang Minang, saya kira
    ini hanya sebuah kecemasan internal saja bukan realita yg
    sesungguhnya… orang batak dgn marga dibelakang nama memang
    memudahkan pengidentifikasian atas asal usul mereka… tapi orang ini
    bukan bersifat tepo seliro atau tenggang rasa atau lamak diawak katuju
    dek urang.. mereka lebih ego yg saya kira sulit untuk diterima dimana-
    mana…

    tetapi ngomong-ngomong sekarang amat banyak artis kita yg berasal
    dari Minang saat ini…. mereka mulai dari Bunga Citra Lestari hingga
    Marshanda, Olga pembanyol dan Nirina Zubir dan masih banyak lagi…
    sayang sebagian mulai hidup beralih sifat lebih sekuler dibanding
    lebih melayu…

    Dan ttg prospek orang minang kedepannya.. nah ini yg sulit
    diperkirakan.. Dari segi karakter bisa maju, tapi orang kita kurang
    sekreatif pendahulu-pendahulu mereka.. dan sepertinya mulai kurang
    berdaya inisiatif memulai sebuah gebrakan baru… walau ada satu dua
    seperti Rizal Ramli yg calonkan diri jadi Capres Independen,
    kebanyakan surut daya inisiatif mereka dan mulai berpola top down, apa
    kata diatas harus dituruti…

    Mental penurut mulai bersemi dalam struktur saraf orang Minang,
    padahal dulunya berfalsafah diiyokan kato urang dilaluan kecek awak…
    tidak ada pilihan lain selain berusaha sekreatif inovatif mungkin,
    lalu mengambil inisiatif dan bikin kerjasama dgn semua orang yg
    mungkin dan terapkan pola manajemen paling modern dan update.. saya
    jamin kita tidak akan pernah ketinggalan kereta..

    Sang

    Bunderan Mangga, Indramayu

    Aktivis Gerakan AKtivis Gerakan Muda Minang:

    http://groups.yahoo.com/group/aktivis_minang/message/6017

    • Dari tulisan anda yg belibet,tdk ada kesimpulan yg dapat ditarik,pemikiran anda ngambang tak tentu arah,kalu anda minang minang aza jng jadi batak,jadi jelas belang Anda ok jangan mengatas namakan Aktivis Minang tapi tdk mencerminkan Intlektualias jangan2 anda gembel yg sok Intlek Catat : Minang adalah Yang pertama kali menyebarkan Sekulerisme ( Adat basandi sara Dan Sebaliknya ) itu Imposibble : agama tdk pernah basandi adat
      kedua : Imam Bonjol itu bukan Minang sialhkan anda telusuri silsilahnya ( jadi tdk pernah ada orang Minang Jadi Pahlawan )
      Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung :itu harus diberantas,karena tidak perlu anda jadi jawa bila anda di jawa : tunjukan dada MU

      • orang tuaku dr sumbar,,dr bayi sampe SMP tnggal di riau, mulai dari guru sampai temen2x baikku di sd bnyk yg dari sumut(batak) bahkan kuliah di jogjapun bnyk temen yg dr sumut krna ambil pertanian(klapa sawit),, SMA di ambon, apalagi di ambon(mnyangkut kerusuhan beda agama)hidup yg sedikit keras,, dan kuliah di jogjakarta
        pernah saya bingung klw di tanya asalnya dari mana,,
        kadang bilang riau,kadang minang,kadang ambon bahkan pernah org tanya asal dr mana saya bilang dr makassar krna sya mmang tw logat makassar,,,
        bukannya malu mengakui suku atau tak tau identitas diri
        sya akui saya org minang walupun seumur hidup baru 2 kali pulang kampung,,

        mungkin kalian bertanya mngapa saya demikian
        karena mnurut saya setiap daerah atw suku memiliki keunggulannya masing2x dan pastinya juga mmiliki kekurangan,, itu pasti,,
        dr perjalan hidup saya sampai saat ini ada ilmu yg paling berharga yg dapat saya ambil,, perbedaan itu anugerah,,keindahan yg dapat kita selami jika kita berpatok pada satu tujuan,, dngn perbedaan kta mngenal satu dngan yg lainnya

        contoh,, ktika blanja di jakarta saya pake bahasa minang toh dapet murah,, ketika kuliah saya pernah berkelahi dngn org flores toh temen2x ambon saya pada bantu walaupun beda agama dan suku,,ktika saya magang di medan di perkabunan sawit,,magang saya lancar,, aman terkendali
        pacar saya org makassar toh krna blajar dikit2x logat makassar sy bisa ngdapetin dy

        kwkwkwkwkwkwkwk,, bukannya mau curhat tapi mudah2xhan ada pelajaran yg bsa d ambil,, menurut saya INDONESIA terdiri dr berbagai macam suku bahasa agama dan budaya
        hidup dalam satu kalimat bhineka tunggal ika
        berbangga mnjadi indonesia dan berpikir luas mmbangun bangsa tanpa mlihat perbedaan..

        itu aja maap klw ada2x salah

  22. Sebenarnya masalahnya bukan orang Mandailing tak mengaku sebagai orang Batak. Tapi, banyak yang merasa kampung asalnya bukan dari Toba sana. Sebab, secara logika, nenek moyang kita yang berasal dari Hindia Belakang, sudah pasti masuk ke Sumatera melalui pantai. Bisa saja dari Barus, Natal, bahkan juga Sumatera Barat. Baru kemudian mereka bergerak sampai akhirnya terdampar di Tano Batak.
    Jadi, logika ini membantah legenda si Raja Batak yang dijatuhkan dewata ke daerah Pusuk Buhit itu. Sebab, kalau dia dijatuhkan ke sana sendirian, bagaimana kemudian bisa mendapatkan keturunan yang kini jumlahnya sudah cukup banyak dan menyebar ke seantero dunia. Apa nenek moyang kita kawin dengan mawas atau yang sejenisnya?

  23. aha de i yamu langa. bujang ni inang mu sa sada. sarat na didokon munu do sude.boto hamu de langa BEKET..mirip songon muko munu..u bakar non teteng munu sasada…BUUUJAAAANG MU BUREKET

  24. MADUNG MANGARTI DO HAMU KAN???? UBEGE HAMU SAKALI NAI MARTOKKARI…..U JAJAR BEKET NI INANG MUNU SASADA……….AU DO ON SIMANUNGKALIT

  25. Memang dikalangan teman2 sebaya saya yang muslim di siantar selalu bilang : dia itu orang Kristen ya?.
    Artinya begini : Dia itu orang Batak ya?
    Teman2 sebaya saya yang muslim (tetangga saya juga) mengangap mengatakan seseorang itu orang Batak = Kasar.
    Beberapa kali saya koreksi dengan mengatakan …Batak…., tetapi refleks mereka berbicara selalu mengatakan Kristen (padahal maksutnya Batak).
    Yang saya perhatikan kata2 itu keluar dari tetangga saya yang selalu berada dalam kelompoknya sendiri. (teman saya sekampung di Timbanggalung yang sudah pulang dari luarnegeri tidak begitu (berubah).
    Saya tinggal di Timbang Galung P Siantar (disana nama2 jalan adalah nama2 kota dari Mandailing)

  26. assalamuallaikum, mau tanya, pakah batak karo sebelum di jajah belanda mayoritas menganut agama islam???

    dan apa alasannya belanda menjajah ke batak karo dan knp harus batak karo bkn batak lainnya???
    trimakasih atas jawabannya

  27. kalo mandailing daerah (sambil lihat peta juga), koq aku belum denger orang bilang ‘aku di daerah mandailing’ ya? paling tapanuli
    bingung aku??

  28. saya nak tahu cerita tentang marga hasibuan dan hutabarat …..itupun kalau de yang sudi menolong…terima kasih….

  29. Boring…

    Tegas, keras koq dibilang kasar…

    Iyakan saja yang penting tidak terluka.. koq dibilang halus…

  30. BATAK adalah BATAK…
    tak peduli anda datang dari agama apa..
    jadi agama dan suku adalah dua hal yang berbeda..
    bukankah kita menjadi sangat bodoh dan selalu ditertawakan orang jika kita punya anggapan bahwa mandailing bukan batak?
    tak perlu anda harus bertanya apakah mandailing batak? bagaimana juga dengan karo? pakpak? simalungun?
    angkola? sipirok juga? apakah mereka juga bukan batak?
    orang batak adalah orang yang sadar dan memahami bahwa dia adalah batak…
    dan bagi kita semua bukan bertanya siapa saja bangso batak… tapi jadikanlah bahwa diri kamu itulah batak yang sebenarnya…..
    horas ma di hita sasude..!

  31. @ Adlinur Muda Nasution

    MAKANYA BELAJAR GEOGRAFI, BELAJAR SEJARAH, LIHAT PETA!!!

    MANDAILING ITU MERUPAKAN WILAYAH.. TOBA, ANGKOLA, KARO, SIMALUNGUN, PAKPAK, DAIRI JUGA..

    SEMUA WILAYAH ITU BERSUKU BATAK.. WILAYAH MANDAILING ITU BATAK MANDAILING, WILAYAH TOBA ITU BATAK TOBA, WILAYAH SIMALUNGUN ITU BATAK SIMALUNGUN…

    SAMA AJA KAN SAMA SUKU JAWA.. ADA JAWA TENGAH NAMA DAERAHNYA………. ADA JAWA TIMUR NAMA DAERAHNYA…… SEMUANYA SUKU JAWA

  32. Gampang, Orang BATAK, NGAKUNYA BUKAN batak itu terserah dia, SAYA BANGGA JADI ORANG BATAK DAN bersyukur untunglah ayahku BATAK , Sehingga aku punya marga dan silsilah DAN TAHU ASAL USUL NENEKMOYANGKU…ada juga orang batak nggak ngaku batak biar bisa kerja, lulus kuliah, naik pangkat, itu kalo dari suku…nah kalo dari agama …ada juga orang kristen ngaku islam biar bisa transmigrasi, naik pangkat dan jadi pejabat…kembali pada kita semua toh

  33. Ass. Wr. Wb.
    Horasssss

    jelas anda-anda yang bermarga pastilah batak. . . .

    kebudayaanlah sepantasnya yang kita perlu perdebatkan, bagaimana cara menjaganya, dan melestarikannya di zaman global ini . . .
    bukan cuma BATAK, semua suku dan kebudayaan yang ada dalam wilayah Indonesia. . .

    intinya kebudayaan batak atau tradisinya sudah hampir punah karena kebudayaan barat . . .
    jika anda merasa bagian dari kami tinggallah, dari suku apapun anda. karena orang tua saya si BATAK tidak pernah mengajarkan SARA. jika tidak anda tahu sendiri, anda bisa close blog ini . . .

  34. mandailing bukan berasal dari batak melainkan orang batak yang berasal dari mandailing buktinya adalah terdapatnya candi2 dan patung2 dewa yang berada di tapanuli selatan sebab menurut penemuan tanda2 ini brati kehidupan pertama terdapat di tapanuli yaitu berada di selatan(tapsel).

    kata ompung saya: dahulu kala ada kerajaan di tapsel dan raja tersebut memiliki keturunan yang kemudian diberi nama si BATAK yang memiliki sifat yang sangat kasar dan memalukan sang raja atau ayahnya, selanjutnya si BATAK di usir oleh raja (morot ko sian huta on) yang artinya keluar kau dari kampung ini. lalu si BATAK pergi ke daerah toba dan membangun perkampungan di daerah itu..

    nah itulah sebabnya orang2 toba bersifat kasar karena turunan leluhurnya..

    apa ada tanda kehidupan bermula di toba????????……

    • aku dapat cerita begini bang!
      Dulu di tapanuli selatan ada kerajaan kecil terjadi perang saudara. Lalu sang raja meminta bantuan kepada kerajaan pagaruyung. Lalu dikirimlah bantuan yang dipimpin oleh panglima kerajaan pagaruyung yang berasal daru suku mandailing. Panglima dari pagaruyung yang berasal dari pagaruyung ini berhasil mengusir pemberontak (Barangkali sibatak ini). Akirnya panglima yang berasal dari pagaruyung yang mempunyai suku madailing ini diberi wilayah keuasaan yang kemudian dikenal dengan wilayah mandailing. Karena itu banyak orang mandailing yang mengaku orang yang beerasal dari orang Minang.

  35. Saudara ku, sebangsa dan setanah air. Tidak perlu kita ribut soal apakah Mandahiling itu, Batak atau bukan? ( aku sendiri kelahiran Talu suku Mandahiling ) , Mari kita isi Republik ini dengan hal-hal yang bermafaat untuk kehidupan dunia dan akhirat.

  36. ea batak lh …..
    phi batak mandailing bkn batak toba……
    batak tu banyak macm’a…..
    phi ynk pntng mandailang tu ttp ktrnan BATAK….

  37. asalamualikum,,,sedaro semuo…menilik dari yg kito bcrakan ni alangkah baiknya kita bicarakan dg sejuk2lah,,,agar tk keluar hawa panas(setan) bicara tu hrs dg ilmu agar dapat hikmah…apabila bicara dg amarah maka muncul musibah…saye ni…mgkn senang jg ttg asalusul ini…tp secara ke ilmuan…org mandailing sama org batak apakah satu keturunan?alangkah baiknya kita mgkaji susur galur…terbentuknya marga,,,yg tertua sudah berapa keturunan mereka….itu yg jelas masing suku bangsa saling mempengaruhi…saya(org siak/melayu)memiliki…keturunan keenam dari taluk kuantan yg kononya sebelumnya kami berasal dr negeri 50 kota…keturunan kami menyebar ke negeri sembilan…namun saye jg masih ada ketrunan bugis lewat ibu,,,,ayah kakek ibu saya,,,namun kakek ibu saya beribukan orang dari palembang,,,semntara istri dr kakek ibu saya keturunan dr negeri trengganu(mlysia)…ibu dr bapak saya berketurunan,,,kampar riau…jd dr kesimpulan itu anda dpt memahami siapa,,,kita ini..bhw kita saling mempengaruhi…baik itu adat agama…dan macam2 lainya…setau saya manusia itu satu rumpun utk org batak kami jg menyebut org melayu…mereka naik ke gunung..menyusuri sungai/daratan hgga ke bukit atau gunung,,karena adnya perantauan agr takut hilang jati diri dibuatlah marga/klan…sama jg dg kasus suku minangkabau…mereka secara umum berketurunan pagararuyung dg tdk melecehkan n tdk mengambil dr segi trombo bahwa manusia kita pasti dari laut tk mgkn dr gunung..menurut cerita kerajaan tertua/kebudayaan yg maju di bumi sumatera di dlm catatan cina adala kerajaan melayu yg sudah ada sebelum abad keelima ….mereka telah memiliki agama budha/hindu yg jelas berkebudayaan yg bernama kerajaan melayu…yg terletak menurut pendpt di jambi(terbukti banyak di jumpai candi2 di jambi)…oleh karena serangan kerajaan lain/persaingan/melindungi kerajaan dari serangan luar(bukti kerajaan siak sengaja di letak di dalam sungai..agar sulit di serang tp benteng dibuat dimuara)maka kerajaan berpindah2 mgkn akhirnya bertapak di melayu…di kerajaan melayu darmasraya..kemudian terjadi akulturasi/proses pengaruh/ekspansi/macam menurut org jawa kerajaan darmasraya berubah nama menjadi pagaruyunr(klo dlm bahasa induk melayu artinya kerajaan yg dikeliling ruyung/tombak/kojou/senjata dlm artian benteng).untuk adat minangkabau itu sendiri sebelum dulu org tdk pernah menyebut minangkabau itu dlm prasasti pun di sumbar tk ada.hal itu di sebut karena pertarungan…mnert rwyt pertarungan kerbau tanah jawa dg tanah melayu…utk adat matrilinnel ini menrut sebagian terjadi pengaruh adat india..hindu…sementara adat minang patrilineal sudah ada sebelumnya…tp org cenderung menybeut minang pasti matrilinial..yg jelas minang sendiri melayu…namun karena di bagian barat kuatnya org2 india otomatis di sumbar baynk adt matrilineal beda dg adt melayu timur….namun anehnya org sumbar lebih suka disebut minang di banding melayu..toh umunya org sumbar menyebut adat patrilinal adalah adat melaka..shgg itu adat melayu…klo di tilik titisan melaka adalah dr tanah sriwijaya,,,palembang sana…walau ada keasamaan bhs tp konsep kebudayaan yg menyebabkan perbedaan tp klo di ru nut bhw adat patrilinial adalah induknya…jawa,,,,yg jg masih dinasti sailendra..yg jelas dr segi agama dri nabi adam jg ayah,,dr segi ilmu biologi pembawa gen juga dr ayah,,.ehhhh…mgkn tolong kasi masukan jika ada yg kurang….yg pada intinya kita dr nabi adam tk ras unggul tk bnagsa unggul yg ada,,,semakin tinggi mnjaga kebudayaan maka mereka ada…islam akan tetap menjaga kebudyaan itu mudahan2 melayu bangkit dg budaya islamnya…amin… masukan…

  38. jangan dijadikan perbedaan yang penting bersama kita bisa…

  39. ASAL USUL ORANG BATAK

    Jauh beratus tahun dahulu sekitar abad keenam orang-orang India Selatan dan India Tengah telah diusir keluar oleh penakluk berbangsa Aryan yang gagah perkasa. Mereka berhijrah melintasi Gunung Himalaya ke Burma dan kemudiannya turun ke Semenanjung Tanah Melayu dan akhirnya setelah melintasi Selat Melaka mereka mendirikan penempatan di sekitar Batang Pane, Daerah Labuhan Batu. Kerajaan mereka dinamakan Munda Holing iaitu Kerajaan Keling dari Munda.

    Kerajaan ini berkembang dengan jayanya sehingga dapat meluaskan tanah jajahannya ke seluruh tepian pantai Selat Melaka hingga ke Singgora/ Patani. Mereka telah mendirikan sebuah candi yang sangat indah dan besar yang kini dinamakan Candi Portibi. Kerajaan ini juga dikenali sebagai Kerajaan Portibi.

    Di abad kesembilan, kerajaan yang telah masyur ini mendapat perhatian Kerajaan India Selatan. Perluasan empayarnya telah membimbangkan Maharaja Rajenderasola dari India Selatan. Akhirnya Maharaja Rajenderasola telah menyerang Kerajaan Portibi pada awal abad kesembilan.

    Alkisah, mengikut ceritanya sewaktu Maharaja Rajenderasola menyerang Kerajaan Portibi itu Baginda telah ditentang oleh seorang putera Munda Holing bernama Raja Odap-Odap. Peperangan yang berlarutan itu memakan masa lebih kurang tujuh tahun sehinggalah Maharaja Rajenderasola beroleh kemenangan. Raja Odap-Odap yang tewas telah berkelana di Padang Lawas tanpa tentu arah tujuannya.

    Hatta, kisah kerajaan Portibi pula semasa berlaku peperangan dengan Maharaja Rajenderasola, tunang kepada Raja Odap-Odap bernama Boru Deakparujar telah mendapat alamat supaya segera meninggalkan Kerajaan Portibi lantaran Dewata Raya sudah tidak lagi menyebelahi mereka. Lalu Puteri Deakparujar itu pun mengumpulkan pengikutnya serta menggenggam tanah Portibi dan berangkatlah menuju matahari naik. Mereka terpaksa mendaki sebuah gunung yang tinggi yang dinamakan oleh mereka Dolok Malea sempena nama Himalaya yang telah dilintasi oleh nenek moyang mereka di abad yang keenam.

    Akhirnya setelah menuruni Dolok Malea mereka telah sampai di satu kawasan yang pamah tetapi dikelilingi oleh bukit bukau. Mereka telah mendirikan penempatan yang baru untuk orang-orang Munda Holing tersebut. Penempatan tersebut dipanggil Pidoli yang kini terbahagi kepada Pidoli Dolok dan Pidoli Lombang. Puteri Deakparujar diangkat memerintah Kerajaan Mandala Holing iaitu kawasan orang-orang Keling.

    Kerajaan ini telah tegak dengan jayanya dan sekali lagi berkembang maju. Segala dagang senteri mula singgah dan berniaga di negeri tersebut hingga ianya termasyur ke mana mana.

    Tersebut pula akan kisah tunangan Boru Deakparujar yang telah berkelana di Padang Lawas, akhirnya Raja Odap-Odap pun sampailah di Pidoli yang diperintah oleh Boru Deakparujar. Dalam keadaannya cumpang camping itu tidak seorang pun anak negeri yang kenal akan raja mereka tersebut. Lagipun tempoh perpisahan yang begitu lama selama tujuh belas tahun tentulah masing-masing sudah berubah. Raja Odap-Odap pun dibawa masuk mengadap Puteri Deakparujar untuk mendapatkan pekerjaan bagi menampung hidupnya. Adat dahulu kala apabila rakyat mengadap raja, ianya hendaklah merangkak kehadapan singgahsana lalu sujud di kaki raja tersebut. Keadaannya yang cumpang camping dengan pakaian kulit binatang yang masih belum dibuang ekornya itu mmberikan gambaran yang Raja Odap-Odap itu keadaannya seperti cicak yang merangkak. Maka itu hingga ke hari ini di setiap rumah adat orang-orang Batak akan kelihatan gambar cicak sebagai simbol pertemuan Raja Odap-Odap dengan tunangannya Boru Deakparujar di Pidoli.

    Raja Odap-Odap diambil bekerja di kandang kuda Puteri Deakparujar kerana kecekapannya memelihara kuda. Pada suatu hari Puteri Deakparujar telah dihadiahkan seekor kuda jantan yang sangat garang hingga tiada sesiapapun yang dapat menjinakkannya sedangkan Puteri tersebut kepingin untuk menunggangnya.Setelah banyak gembala kuda mencuba untuk menjinakkannya tetapi semuanya gagal juga. Maka pada suatu hari Raja Odap-Odap pun diminta oleh Tuan Puteri supaya menjinakkan kuda tersebut.

    Bagitu Raja Odap-Odap menghampiri kuda tersebut ianya menundukkan kepalanya setelah diusap-usap kepalanya. Raja Odap-Odap pun menunggang kuda tersebut dengan baiknya. Semua yang hadir kehairanan dan tercengang-cengang.

    Memandangkan Raja Odap-Odap telah berjaya menjinakkan kuda liar tersebut Puteri Deakparujar pun sangat gembira lalu dipersalinkannya Raja Odap-Odap dengan pakaian yang baik-baik setelah selesai disintuk, berlangir dan mandai. Begitu siap dipersalinkan maka dibawalah mengadap Tuan Puteri. Alangkah terkejutnya Tuan Puteri apabila melihat wajah Raja Odap-Odap yang mirip wajah tunangannya. Hampir sahaja Tuan Puteri pengsan jika tidak cepat disambut oleh dayang-dayangnya.

    Mengikut adat hamba tidak dibenarkan menatap wajah raja maka keadaan tersebut tidak diketahui oleh Raja Odap-Odap, hinggalah Tuan Puteri memintanya mengangkat mukanya menatap wajah Baginda. Kedua-duanya amat terperanjat dan terpinga-pinga kerana tidak disangka mereka akan bertemu dalam keadaan sedemikian rupa. Apabila kedua-duanya telah kenal antara satu sama lain lalu bertangisanlah mereka. Gemparlah seluruh istana di Pidoli menyatakan bahawa gembala kuda raja itu sebenarnya adalah putera Munda Holing yang hilang sekian lama.

    Keaadaan sedih menjadi gembira, lalu kedua anak raja itu pun dikahwinkan dengan acara yang paling meriah selama empat puluh hari empat puluh malam. Kedua-duanya pun memeintahlah Kerajaan Mandala Holing di Pidoli tersebut. Namun begitu barang yang telah ditetapkan oleh Puteri Deakparujar tidak pernah dihalang oleh Raja Odap-Odap, begitulah hormatnya baginda akan tuan puteri yang merupakan tuan rumahnya.

    ASAL BATAK

    Keturunan keenam dari Boru Deakparujar dan Raja Odap-Odap, salah satu darinya bernama Datu Dandana Debata. Dia adalah seorang yang banyak saktinya dan menjadi Datu/Pawang di istana raja pada masa itu. Anaknya adalah keturunan ketujuh dari Boru Deakparujar bernama RAJA BATAK. Beliau juga seperti ayahnya sangat handal dan tinggi ilmu batinnya.

    Oleh kerana masyarakat Mandala Holing berasal dari India yang mengamalkan sistem kasta maka itu keturunan raja adalah dilarang bercampur darahnya dengan darah hamba. Pantangan ini sangat keras pada masa itu.

    Ditakdirkan oleh Dewata Raya, ketua bagi segala hatoban iaitu Datu Ompung Dolom yang duduk di Sopo Godang tetapi tidak boleh bersuara kecuali menerima kerja, mempunyai seorang puteri yang sangat jelita.

    Walaupun telah ditegah tetapi Raja Batak tetap dengan pendiriannya untuk menggauli anak Datu Ompung Dolom tersebut, hinggakan mengandung. Apabila berita tersebut diketahui oleh Raja maka perintah menangkap Raja Batak pun dikeluarkan. Namaun begitu tidak ada seorang pun yang dapat menangkap Raja Batak yang sakti itu, malah ramailah panglima yang terkorban di dalam usaha mereka untuk menangkap Raja Batak tersebut.

    Setelah habislah ikhtiar untuk menangkap Raja Batak maka Datu Dandana Debata pun dipanggil raja untuk mencuci arang di muka. Apabila raja bersungguh-sungguh meminta supaya Raja Batak dibuang maka sembah Datu Dandana Debata kepada Baginda:

    “Ampun tuanku beribu-ribu ampun, sembah patik mohon diampun, akan Raja Batak itu tidak akan ada sesiapapun yang boleh membunuhnya. Telah patik turunkan segala ilmu dan muslihat peperangan kepadanya. Lagipun tidak boleh kita menitiskan darah raja di tano handur, tano malambut, tano lulambu jati, tano padang bakkil Mandailing, tano si ogung-ogung. Sian i ma dalan tu ginjang, partuatan ni omputa, Debata na tolu suhut, na tolu sulu, na opat harajaon, tu banua tonga on……”

    Raja pun terdiam, lalu berjanji tidak akan membunuh Raja Batak atau menitiskan darahnya. Setelah menerima pengakuan bahawa anaknya tidak akan dibunuh atau dicederakan maka Datu Dandana Debata pun menyuruh orang membuat jala tiga warna iaitu warna putih, merah dan hitam yang menjadi warna adat dan keramat sehingga hari ini. Apabila jala tiga warna itu siap Datu Dandana Debata pun naik ke atas bumbung rumah anaknya lalu diminta orang memanggil Raja Batak keluar bermain senjata di halaman rumah. Begitu Raja Batak keluar ke halaman rumah ayahnya pun menebarkan jala tiga warna lalu terperangkaplah Raja Batak dan gugurlah segala kesaktiannya.

    Sejak itulah maka semua Bagas Godang/ Istana Raja di Mandailing dilentik naik hujung atap rumahnya, agar tidak ada orang yang boleh menebarkan jala dari atas bumbungnya.

    SUMPAHAN KE ATAS RAJA BATAK

    Apabila Raja Batak dihadapkan di dalam sidang adat maka ia telah dihukum buang daerah bersama seluruh keturunan Datu Ompung Dolom. Pada hari tersebut lalu disebutlah:

    “Hee….kamu Siraja Batak nyah/ pergilah kamu dari Tanah Mandailing ini sebagai orang yang hina, orang yang tidak tahu adat, orang yang degil/bendal dan orang yang kasar serta rendah martabatnya…..Kamu diusir ke sebuah pulau yang terletak di atas gunung yang dikelilingi oleh air di tanah gersang yang tiada tumbuh-tumbuhan yang subur yang terpencil dari penglihatan manusia dan binatang….Barang ada keturunanmu hendaklah ia memulakan namanya dengan panggilan Si…..sebagai orang yang hina dari martabat yang rendah…..Tidak boleh di antara kamu memakai perhiasan dari logam kecuali daripada manik tandanya kamu dari keturunan orang yang terbuang….Tidak boleh kamu meninggalkan pulau tersebut selama tujuh keturunan kamu, jika ada yang kemudiannya mendirikan kampung di tanah besar nanti, hendaklah dikelilingi oleh rumpun bambu supaya jelas bahawa kamu adalah dari keturunan yang hina….”

    Begitulah kira-kiranya sumpahan ke atas Siraja Batak dan keturunannya selama tujuh generasi. Mereka telah dipisahkan dari pandangan manusia dan binatang, selama tujuh keturunan kerana kesalahan menentang adat dan raja.

    Oleh kerana Siraja Batak dibuang bersama seluruh anggota keluarga Datu Ompung Dolom yang merupakan ketua segala hamba maka itu kita dapati dari segi fizikal terdapat perbedaan yang sangat ketara antara Mandailing dan Batak.

    Orang-orang Batak biasanya pendek-pendek, rambut kerinting dan kepalanya benjol ke belakang.

    Orang Mandailing asli agak tinggi dan tegap, rambutnya ikal mayang, kulit putih kemerah-merahan atau putih kuning.

    Walaupun asal usul orang Batak itu dari Tanah Mandailing tapi kedudukan mereka sebenarnya adalah keturunan Datu Ompung Dolom yang merupakan kasta rendah yang menjadi hamba di Mandala Holing iaitu Pidoli kecuali Siraja Batak itu sahajalah elemen Mandailing yang asli.

    Oleh yang demikian jelaslah Mandailing itu bukanlah BATAK walaupun BATAK itu asalnya dari Tanah Mandailing.

    Siraja Batak itu keturunan ketujuh kepada Boru Deakparujar lalu dibuang dan disumpah untuk tujuh keturunan maka itu orang Batak sentiasa berpegang kepada angka tujuh sebagai angka sakti dan keramat sedangkan orang Mandailing menganggap angka sembilan sebagai angka raja.

    SEKITAR BATAK DAN MANDAILING

    Banyak telah diperkatakan oleh berbagai orang mengenai Batak dan Mandailing. Umpamanya Batak Mandailing. Batak itu terbahagi kepada lima kumpulan iaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Mandailing dan Batak Pakpak.

    Andaian seperti ini telah mengelirukan ramai orang. Ada pula mengatakan bahawa Mandailing itu asalnya dari Toba turun ke Mandailing.

    Logiknya semua tamadun tidak pernah wujud dari gunung lalu turun ke lembah. Biasanya tamadun itu bermula dari kuala sungai dan naik ke lembah lalu ke gunung. Kawasan lembah adalah sumber bagi segala kehidupan sama ada di darat, di sungai ataupun dilaut.

    Perhubungan juga adalah melalui muara sungai ke laut. Mereka yang mendiami dataran tinggi atau gunung adalah terdiri daripada orang yang kalah perang ataupun orang yang diusir dari masyarakat adat yang bertamadun.

    Di abad ketigabelas hikayak Jawa ada mencatitkan mengenai serangan tentera Majapahit ke atas Lamuri dan Mandailing tetapi nama Batak tidak tercatit samasekali. Jelaslah bahawa Mandailing itu sudah jauh bertapak dan diketahui pada masa itu.

    Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar masih dibacakan di dalam setiap upacara kecil atau besar orang-orang Batak. Di sana ia menyatakan bahawa jalan ke kayangan dan tempat temasya nenek moyang orang Batak adalah di Mandailing. Bukankah ertinya mereka mengakui bahawa asal usul mereka orang Batak datang dari Tanah Mandailing? Maka itu Mandailing itu lebih awal dan lebih dahulu ada sebelum adanya orang Batak. Bagaimana pula akhir ini Mandailing pula menjadi Batak?

    Peranan orang Batak mulai tampil kehadapan apabila mereka memeluki agama Kristian di zaman penjajahan Belanda di Indonesia. Oleh kerana mereka beragama Kristian sedangkan orang Mandailing majoritinya beragama Islam maka orang-orang Batak telah diberikan tempat istimewa dalam pentadbiran kerajaan Belanda di Indonesia. Lama kelamaan mereka menguasai sebahagian besar teraju pentadbiran lalu menjadi terkenal. Atas dasar tersebutlah maka kedudukan orang Batak menjadi kukuh dan dominan lalu suku kaum Mandailing yang satu ketika merupakan bangsa yang tamadun dan tinggi martabatnya tenggelam begitu sahaja.

    Pengaruh Islam yang kuat di kalangan orang Mandailing juga telah melenyapkan sebahagian besar identiti budaya dan tulisan orang Mandailing. Akhirnya semua itu tidak lagi merupakan warisan yang penting kepada orang Mandailing, sedangkan di Toba semuanya dipertahankan.

    Salasilah atau torombo Raja-Raja Mandailing sama ada dari Marga Nasution atau Lubis tidak satu pun menunjukkan bahawa mereka berasal dari Toba atau Karo sebaliknya mereka adalah masing-masing berasal dari Minangkabau dan Bugis.

    Penggunaan perkataan SIRAJA BATAK, apabila pangkalnya ditambah dengan perkataan ‘SI’ ianya menunjukkan kedudukan dan martabat orang yang rendah. Dalam istilah purbakala jika seseorang itu dari keturunan bangsawan ianya menggunakan panggilan pangkalnya ‘SANG’ umpamanya Sang Sapurba, Sang Adika, Sang Nila Utama dan sebagainya.

    Binatang-binatang yang gagah juga dipanggil Sang Harimau, Sang Buaya, Sang Purba/ Gajah tetapi kepada binatang yang kecil dan lemah dipanggil Sikatak, Sicicak, Sikera dan sebagainya.

    Begitu juga keadaannya dengan manusia yang lemah dan tidak mempunyai darjat lalu dipanggil Siluncai, Siawang, Sikodok, Sibuyung dan sebagainya.

    Perbedaan ini jelas sekali apabila marga-marga di Tanah Batak menggunakan pangkal perkataannya dengan istilah ‘SI’ iaitu Sinambela, Simanjuntak, Sinaga, Siotang, Siregar dan sebagainya.

    Marga-marga di Tanah Mandailing tidak satu pun menggunakan istilah pangkalnya dengan perkataan ‘SI’ contohnya Nasution, Lubis, Rangkuty, Batubara, Parinduri dan sebagainya.

    Walaupun berbagai tafsiran dapat kita kemukakan, namun satu perkara yang tidak dapat dinafikan ialah kawasan Toba adalah tanah gersang. Tidak akan ada manusia primitif yang sengaja ingin ke sana untuk membuka penempatan. Manusia lazimnya mencari tanah yang subur untuk bercucuk tanam kerana itulah sumber kehidupan masyarakat dahulu kala.

    Sifat dan sikap orang Batak adalah kasar, tidak teratur dan tidak dapat mengawal perasaannya. Ciri-ciri perwatakan mereka ini menunjukkan bahawa mereka memanglah terdiri dari manusia yang kurang sopan. Maka itu di Mandailing apabila anak mereka jahat atau bandel secara spontan mereka akan mengeluarkan istilah “Bataknya kau ini”

    Istilah tersebut telah digunakan berkurun-kurun lamanya hinggakan masyarakat Mandailing telah lupa sejarah istilah tersebut merujuk kepada Siraja Batak yang derhaka kepada raja dan tidak mahu mengikut peraturan adat pada zaman dahulu kala.

    Dari nama Siraja Batak itulah seluruh keturunannya dan juga keturunan Datu Ompung Dolom yang merupakan ketua segala hamba ataupun hatoban dipanggil “BATAK” iaitu orang-orang Batak.

    Perlu ditegaskan bahawa perkataan “BATAK” bukanlah bermaksud ianya satu bangsa, tetapi sebaliknya ia adalah satu istilah yang digunakan oleh oang Mandailing untuk menunjukkan sikap seseorang yang tidak tahu adat dan peraturan, orang kasar dan tidak terkawal sikapnya. Ini juga menunjukkan tentang status dan kedudukan orang yang dimaksudkan itu rendah martabatnya. Namun pada masa sekarang, lantaran pengaruh Belanda di zaman penjajah begitu kuat maka istilah Batak/ orang Batak yang kebanyakannya Kristian telah diangkat mendiami Sumatera Utara iaitu di Tapanuli.

    KEBANGKITAN BATAK

    Di abad ke tigabelas tentera Majapahit telah menyerang Mandailing iaitu Kerajaan Mandala Holing yang berpusat di Pidoli. Dengan itu hancurlah kerajaan Mandala Holing dan pengaruh agama Hindu di Tapanuli Selatan.

    Saki baki orang-orang Munda telah lari bertempiaran ke dalam hutan untuk menyelamatkan diri masing-masing. Mereka yang tertawan telah dibawa sebagai hamba abdi.

    Di akhir abad ke tigabelas saki baki tentera Mandala Holing telah dapat berkumpul dan bergaul dengan masyarakat peribumi di sekitar Aek Batang Gadis lalu mereka telah mewujudkan marga Poeloengan yang kemudiannya berjaya mendirikan tiga bagas godang mereka di atas tiga puncak gunung. Namun begitu kerajaan tersebut hanya merupakan kerajaan kampung sahaja.

    Orang-orang Batak yang terbuang di Pulau Simosir telah dapat membangunkan semula adat kepercayaan mereka yang bergaul antara kepercayaan Hindu dan aninisme serta penyembahan roh-roh nenek moyang mereka. Pusat mereka ialah di Busut Puhit.

    Kedatangan misi Kristian ke Tanah Batak telah mengubah keadaan hidup masyarakat orang Batak yang tidak mempunyai kepercayaan teguh kepada mana-mana agama. Kebanyakan mereka telah memeluk agama Kristian.

    Setelah mereka menganut agama Kristian pihak penjajah Belanda membawa mereka ke alam pembelajaran, penulisan dan pembacaan. Oleh kerana pihak Belanda memerlukan tenaga kerja sebagai perantaraan penjajah dengan masyarakat peribumi maka orang-orang Batak yang telah diKristiankan ini menjadi pilihan utama untuk menjalankan dasar pecah dan perintah tersebut.

    Orang Batak secara tidak langsung telah mendapat tempat di dalam setiap bidang pentadbiran Belanda. Kedudukan ekonomi dan status sosial mereka mulai meningkat.

    Orang-orang Mandailing yang telah memeluk agama Islam sewaktu gerakan tenteri paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol dan pengikutnya menjadi golongan fanatik agama. Mereka menentang apa sahaja pembaharuan yang dibawa oleh Belanda.

    Memandangkan adat istiadat nenek moyang mereka banyak yang bertentangan dengan agama Islam maka orang-orang Mandailing telah membuang adat resam mereka yang telah diamalkan sejak dahulu. Lama kelamaan dari segi adat budaya, tulisan dan pertuturan orang Mandailing mulai kehilangan keutuhannya.

    Berbeda dengan orang Batak walaupun mereka telah memeluk agama Kristian mereka tetap berpegang teguh kepada adat resam dan budaya mereka. Sehingga sekarang orang Batak masih dapat bertahan dan terus mempertahankan adat budaya dan tulisan mereka.

    Kekuatan dan ketahanan adat resam, budaya hidup, kesenian, tulisan dan bahasa Batak ini telah ditonjolkan oleh mereka dari zaman ke zaman sehinggalah mereka bangkit sebagai satu suku bangsa yang kuat dan utuh.

    Seperkara lagi orang-orang Batak telah berjaya menghidupkan kegemilangan warisan sejarah mereka dari semua sudut, sama ada sejarah anthropologi, arkiologi atau sejarah patriotismenya.Sisingamangaraja telah ditonjolkan sebagai salah seorang pahlawan kebangsaan dari keturunan Batak. Malangnya orang-orang Mandailing telah gagal berbuat sedemikian hingga kesan mereka ke atas masyarakat Indonesia langsung tidak mempunyai signifikan.

    Satu lagi contoh yang nyata ialah Batak Toba mempunyai contoh rumah adat mereka yang lengkap dan teratur. Begitu juga dengan Batak Karo dan Batak Simalingun semuanya mempunyai rumah adat yang terpelihara keasliannya. Rumah orang Mandailing tidak mempunyai rumah adat yang boleh ditonjolkan sebagai senibina yang mempunyai ciri-ciri tersendiri.

    Tulisan-tulisan Batak atau askara Batak masih lagi ditampilkan kepada umum bahkan dijadikan bahan antik dan unik kepada para pelancong. Dengan cara begini orang Batak telah mengekalkan ciri-ciri budaya mereka. Danau Toba pula telah meletakkan orang-orang Batak di peta dunia kerana pelancong dari seluruh pelusuk dunia terus menerus berjunjung ke sana. Malangnya sumber semula jadi di Tanah Mandailing tidak pernah digunakan bagi memperkukuhkan warisan budaya masyarakat Mandailing.

    Ulos Batak pada masa kini menjadi buah tangan kepada pelancong yang melawat ke tempat-tempat mereka. Anehnya kain Tenunan Patani yang merupakan pakaian orang Mandailing itu sendiri sudah tidak ada. Jika ada pun ianya dalam simpanan orang-orang tua yang kini keadaannya terlalu usang dan reput. Rombongan kesenian ataupun kumpulan muzik orang-orang Batak kelihatan menjelajahi ke seluruh dunia sama ada di Asia Tenggara, Eropah ataupun Amerika. Suara mereka dan petikan gitar mereka telah memikat jutaan penonton dan pendengarnya. Mereka menjadi duta tidak rasmi dalam memperkenalkan suku kaum Batak ke seluruh dunia.

    Buku-buku mengenai sejarah orang-orang Batak tidak putus-putus dicetak dalam berbagai-bagai bahasa dengan memperbesar-besarkan asal usul mereka. Ada yang mencatitkan bahawa suku Batak ini sudah wujud tiga ribu tahun yang lalu dan sebagainya. Sejarah asal usul orang Mandailing belum pernah dibukukan secara ilmiah dan tidak pernah diterjemahkan kepada bahasa-bahasa lain. Justeru itu siapakah yang akan tahu tentang orang Mandailing?

    Kebangkitan orang Batak selepas penjajahan Belanda sangat ketara dan teratur. Misi Kristian telah menonjolkan kedudukan mereka di dalam masyarakat Indonesia dan mayarakat antarabangsa sehinggakan nama Mandailing tenggelam dan menjadi serpihan kepada suku kaum Batak. Hari ini mereka memperkenalkan orang Mandailing sebagai BATAK MANDAILING pada hal pada suatu ketika dahulu oang Mandailing adalah satu bangsa berasal dari Munda.

    Bukankah sebenarnya Batak itu asalnya dari Tanah Mandailing yang menjadi serpihan dibuang ke tanah gersang terpencil di pergunungan. Agak aneh nama mereka yang didahulukan dan nama Mandailing telah dtenggelamkan.

    Sekiranya kita melawat ke Simosir, kita dapati orang-orang Batak begitu bersungguh-sungguh cuba menghidupkan semula nilai budaya dan kesenian mereka. Jelas kelihatan rumah-rumah mereka dihiasi dengan 3 warna: putih, merah dan hitam sebagai lambang warna adat yang keramat.

    Warna-warna tersebut adalah mewakili tiga benua yang menjadi kepercayaan orang Batak. Banua Ginjang, Banua Tonga dan Banua Toru. Ketiga-tiga benua ini pula dijaga oleh tiga dewa yang dikenali sebagai Manggala Bulan menjaga Banua Ginjang yang dilambangkan dengan warna putih. Dewa Soripoda mengawal Banua Tonga yang dilambangkan dengan warna merah. Betara Guru yang mengawal Banua Toru dilambangkan pula dengan warna hitam.

    Dari segi ilmu perdatuan pula ketiga-tiga warna tersebut melambangkan darah putih, darah merah dan darah hitam yang terdapat di dalam tubuh badan kita.

    Warna-warna putih, merah dan hitam kini menjadi warna adat dan keramat kepada orang Batak. Mereka juga percaya bahawa dunia ini dicipta oleh Mulajadi Na Bolon sebagai Dewata Raya yang maha berkuasa.

    Dari sudut alat muzik orang Mandailing menggunakan Gordang Sembilan di dalam setiap upacara adat mereka. Orang-orang Batak pula menggunakan gendang tujuh atau gendang lima yang bersaiz kecil sahaja.

    Bagi orang Batak angka tujuh dianggap sebagai angka sakti atau keramat yang mempunyai kuasa mistik. Segala sumpahan atau perdatuan, mereka menggunakan angka tujuh.

    Orang Mandailing pula menganggap bahawa angka sembilan itu sebagai angka raja, angka terbesar dan yang hidup terus menerus. Angka tiga pula dianggap sebagai angka adat berdasarkan Dalian Na Tolu iaitu Mora, Kahanggi dan Anak Boru.

    Orang Batak juga berpegang kepada adat budaya Dalian Na Tolu sepertimana orang Mandailing cuma tafsiran mereka sahaja yang berlainan mengenai erti Dalian Na Tolu tersebut. Bagi orang Batak Dalian Na Tolu itu ertinya tiga batu tungku yang digunakan untuk menanak nasi yang mana ianya saling bergantung antara satu sama lain. Pada dasarnya konsep Dalian NaTolu sama sahaja. Mereka mengasakan kepada Huta-Huta, Dongon Sabutuha dan Anak Boru.

    Sama ada Mandailing atau Batak asas budaya Dalian Na Tolu itu adalah berpegang kepada peranan Mertua, Anak saudara dan Menantu. Ketiga-tiga elemen ini memerlukan antara satu sama lain bagi mewujudkan kesepakatan dan pergantungan sesuatu keluarga. Mereka percaya bahawa asas kebahagian dan kejayaan sesuatu keluarga tersebut adalah bergantung kuat atas kerjasama ketiga-tiga pihak tersebut.

    Keluarga memainkan peranan utama di dalam pola kehidupan masyarakat Tapanuli sama ada Mandailing ataupun Batak. Mereka sangat membanggakan keluarga dan hidup berkeluargaan. Dalam hal nikah kahwin pula, biasanya dilakukan di antara sepupu mereka.

    PENUTUP

    Kesimpulannya asal usul orang-orang Batak adalah dari Tanah Mandailing berketurunan hamba dari Munda Holing. Hanya Siraja Batak sahaja dari keturunan bangsawan. Selainnya adalah dari keturunan Datu Ompung Dolom, Ketua segala hatoban.

    Walaupun suku Batak ini dari Mandailing tetapi mereka adalah dari kasta yang rendah. Bentuk tubuh badannya agak kecil dan kepalanya kelihatan bebenjol di belakang berbeda dengan orang Mandailing yang lebih tinggi dan tegap, rambutnya ikal tidak kerinting halus seperti orang Batak asli.

    Sifat orang Batak adalah kasar, tidak terkawal perasaannya.Suara mereka agak kuat. Dalam perbualan atau percakapan biasa pun nampak seolah-olah mereka sedang bertengkar.

    Pembawaan mereka agak liar dan sentiasa suka bertengkar dan bergaduh mahupun sesama sendiri. Sikap seperti ini sangat jelas kelihatan di mana-mana juga mereka berada. Kelakuannya sembrono dan jarang sekali menghormati hak-hak orang lain.

    Seperkara lagi orang Batak agak pengotor dan kurang berkemas kecuali mereka yang telah merantau ataupun telah maju di dalam kehidupannya.

    Apa yang jelas ialah sifat dan sikap orang Batak itu tidak ada pada orang Mandailing. Kemungkinan besar ianya tertanam sejak dari nenek moyang mereka Datu Ompung Dolom ataupun disebabkan keadaan hidup yang tidak mengizinkan mereka berkelakuan lebih baik.

    Walau bagaimanapun keadaan kini sudah banyak berubah. Mungkin alam sekelilingnya mempengaruhi perubahan itu atau kemajuan masyarakat setempat telah membawa perubahan tersebut. Namun begitu pada dasarnya sifat semula jadi ini masih juga dapat dikesan pada sesuatu masa tertentu.

    Keaadaan masyarakat selepas merdeka telah banyak membawa pembaharuan Kehidupan dahulukala yang dibelenggu oleh adat mulai terhakis. Kahwin campur juga telah membawa banyak perubahan hidup dan cara hidup selain dari perpindahan penduduk dari satu tempat ke satu tempat lain serta pengaruh alam sekeliling. Pergaulan bebas di kota telah membawa pengertian hidup yang lebih luas bagi semua suku bangsa. Selain itu pelajaran telah dan pendidikan memainkan peranan penting mengubah sikap sesuatu suku bangsa itu.

    Pada masa ini agak sukar untuk membedakan keaslian keturunan seseorang itu akibat percampuran hidup yang bebas di dalam negara merdeka ini.

    Dipetik dari makalah Lembaga Adat mandailing Malaysia (LAMA) bertajuk:

    ASAL USUL BATAK – Satu Ringkasan Legenda Asal Usul Keturunan Orang-Orang Batak Yang Tertumpu Di Pulau Simosir, Danau Toba

  40. GERAKAN KRISTIAN MELABEL MANDAILING SEBAGAI BATAK

    Sejak 1821 lagi kerajaan Belanda cuba mengkristiankan orang-orang Mandailing yang pada masa itu baru sahaja memeluk agama Islam di hujung pedang pada 1816. Namun perjuangan Jihad Padri telah menghalang orang-orang Mandailing daripada terus terdedah kepada kegiatan kumpulan-kumpulan pendakwah Kristian yang didokong oleh kerajaan Belanda.

    Percubaan demi percubaan yang dilakukan oleh penjajah Belanda untuk mengkristiankan orang-orang Mandailing telah mengalami kegagalan. Pihak Belanda yang didalangi oleh badan-badan pendakwah agama Kristian juga gagal memaksa orang-orang Mandailing memeluk agama Kristian secara fizikal seperti yang pernah dilakukan oleh angkatan Jihad Padri semasa menyebarkan ajaran Islam pada 1816.

    Kegagalan pihak Belanda ini telah memaksa badan-badan pendakwah agama Kristian untuk menggunakan strategi baru dalam menyebarkan agama Kristian. Lantaran itu pada awal kurun ke 20 badan-badan pendakwah agama Kristian di Belanda telah melancarkan 2 strategi untuk menarik orang-orang Mandailing kepada agama Kristian;

    a. memesongkan sejarah antropologi orang-orang Mandailing supaya mereka merasa tidak asing dari sejarah dan kebudayaan Batak yang menjadi tulang belakang gerakan Kristian di Tanah Besar Sumatera khususnya di dalam Konspirasi Batak Mananggoring

    b. menjadikan orang-orang Islam khasnya orang-orang Mandailing lemah dari segi penguasaan ekonomi supaya badan-badan pendakwah Kristian masuk daun dengan memberikan bantuan secara sistematik dan sekaligus menarik perhatian mereka terhadap kebaikan badan-badan pendakwah Kristian ini dengan menggunakan konsep yang sama dengan Polisi Pecah dan Perintah oleh Inggeris di Tanah Melayu (Divide and Rule Policy)

    Pada kurun ke 19 yang lalu, apabila kebanyakan dari orang-orang Batak memeluk agama Kristian dari Belanda, peranan orang Batak di Nusantara Melayu diangkat semula oleh penjajah Belanda selepas Perang Jihad Padri bagi membatasi peranan orang-orang Minangkabau dan orang-orang Mandailing yang telah berusaha menegakkan agama Islam di Tanah Besar Sumatera. Kedatangan pendakwah-pendakwah Kristian ke Tanah Batak telah mengubah keadaan hidup masyarakat Batak yang tidak mempunyai kepercayaan teguh kepada mana-mana agama besar di dunia pada masa itu. Ramailah di antara mereka memeluk agama Kristian.

    ‘Before the arrival of the Europeans, cannibalism was quite common among the Bataks.’ (74) – Schnitger 1939.

    Apabila mereka memeluk agama Kristian, pihak Belanda telah membawa orang-orang Batak ke alam pendidikan, penulisan, pengiraan dan pembacaan. Ini ialah kerana pihak Belanda memerlukan tenaga kerja sebagai perantaraan antara Belanda dan masyarakat peribumi Indonesia. Lalu orang-orang Batak yang beragama Kristian telah diberi kedudukan istimewa dalam pentadbiran kerajaan Belanda di Indonesia.

    Walaupun mereka memeluk agama Kristian, orang-orang Batak tetap berpegang teguh kepada adat-resam dan budaya mereka. Oleh kerana itulah adat-resam, budaya hidup, kesenian, tulisan dan bahasa Batak masih dapat bertahan dan ditonjolkan hingga ke hari ini.

    Lama-kelamaan ramai di antara mereka menguasai sebahagian besar teraju pimpinan negara lalu menjadikan bangsa Batak itu terkenal. Atas dasar inilah bangsa Batak menjadi satu bangsa yang kukuh dan dominan di Tanah Besar Sumatera dan menenggelamkan bangsa Mandailing yang pada satu ketika merupakan bangsa yang sangat maju dan bertamadun tinggi di Nusantara Melayu.

    Orang-orang Mandailing yang memeluk Islam sewaktu gerakan Jihad Padri telah menjadi golongan fanatik agama yang menentang setiap pembaharuan yang dibawa oleh Belanda. Tambahan pula pada masa yang sama kerajaan Belanda sememangnya mahu melenyapkan pengaruh Islam dan keagungan bangsa Mandailing. Ini disebabkan dendam kesumat yang tidak berkesudahan ke atas angkatan perang Jihad Padri yang majoritinya dianggotai oleh orang-orang Mandailing, Rawa dan Minangkabau. Selepas Perang Padri, orang-orang Mandailing telah banyak membuang adat-istiadat dan adat resam yang tidak sesuai dengan agama Islam. Lama-kelamaan orang-orang Mandailing mulai kehilangan identiti bangsa, adat-resam, budaya, tulisan dan pertuturan mereka.

    Akibatnya kumpulan-kumpulan pendakwah Kristian dan kerajaan Belanda pada masa itu mengambil kesempatan untuk memperkenalkan Batak sebagai nenek-moyang orang-orang Mandailing ke seluruh dunia dan orang-orang Mandailing pula diistiharkan sebagai Batak Mandailing yang berasal dari bangsa Batak. Ini dilakukan dengan harapan generasi akan datang orang-orang Mandailing akan merasa tidak asing dengan sejarah dan kebudayaan orang-orang Batak dan terpaksa merujuk kepada orang-orang Batak semasa mencari identiti mereka dan sekaligus ini akan merangsang generasi muda orang-orang Mandailing itu untuk mengkaji agama Kristian sebagai agama pilihan asal nenek-moyang mereka. Cara yang digunakan Belanda ini adalah sama dengan Polisi Pecah dan Perintah yang dilakukan oleh British di Tanah Melayu. Justeru itu adalah menjadi tanggungjawab setiap generasi Mandailing untuk bangkit dan menafikan Gerakan Batak Mananggoring ini.

    Permasalahan di antara Mandailing dan Batak telah lama wujud sejak tahun 1920an lagi sehingga hampir mencetuskan ketegangan etnik kerana wujudnya satu operasi dan usaha yang sistematik untuk membatakkan Mandailing. Semuanya bermula apabila orang-orang Batak dengan kerjasama pendakwh-pendakwah Kristian melancarkan Gerakan Batak Mananggoring.

    GERAKAN BATAK MANANGGORING 1922

    Pada 16 Ogos 1922 di Kampung Kayu Laut di Padang Lawas, Tanah Besar Sumatera, seorang Batak yang mendakwa dirinya sebagai Batak Mandailing (Batak yang telah lama tinggal dan menetap di Tanah Mandailing dan berasimilasi dengan orang-orang Mandailing) yang bernama Todung Gunung Mulia yang menjadi kepala Sekolah H.I.S di Kota Nopan telah bersepakat dengan seorang kolonel tentera Belanda dari Sibolga mengatur rancangan rapi untuk membatakkan Mandailing itu dan sekaligus membuka peluang kepada kumpulan-kumpulan pendakwah Kristian dan kerajaan Belanda untuk melenyapkan identiti bangsa, jati diri bangsa, adat-resam, budaya hidup, tulisan dan pertuturan orang-orang Mandailing.

    Gerakan ini telah dinamakan sebagai Gerakan Batak Mananggoring dan ianya didalangi oleh badan-badan pendakwah Kristian pada masa itu yang dikehendaki untuk menghantar satu laporan mengenai perkembangan agama Kristian di kalangan masyarakat Mandailing ke Vatican City di Itali. Dengan memasukkan orang-orang Mandailing di kalangan orang-orang Batak, maka tidak timbul isu peratusan penganut agama Kristian yang rendah di kalangan orang-orang Mandailing.

    Ini sekaligus memaksa generasi orang-orang Mandailing yang akan datang merasa tidak asing dengan sejarah dan kebudayaan orang-orang Batak serta merujuk kepada orang-orang Batak semasa dalam usaha mencari identiti dan jati diri mereka dan sekaligus ini akan merangsang generasi baru orang-orang Mandailing itu untuk mengkaji agama Kristian sebagai agama pilihan asal nenek-moyang mereka. (118-120) – Mhd.Arbain Lubis.

    Atas usaha Todung Gunung Mulia dan kolonel tentera Belanda ini, 14 Kepala-Kepala Kuria Mandailing yang merupakan keturunan-keturunan raja-raja Mandailing telah didesak dan dipaksa untuk menandatangani pengistiharan di Kayu Laut bahawa Mandailing itu adalah salah satu ‘luhak’ atau daerah kecil dari wilayah bangsa Batak.

    Oleh kerana Kepala-Kepala Kuria tersebut merupakan pemerintah yang dilantik atas ehsan Belanda, maka mereka terpaksa akur bagi menjaga kepentingan masing-masing walaupun ia merupakan fitnah dan penipuan terbesar di dalam sejarah antropologi dunia.

    ‘In Sumatra the smallest administrative unit above the village was the kuria, often composed of a mother-child village complex. The head of the kuria was an indigenous raja who had dual role of head under customary lawa and officer of the Dutch administration.’ (149) – Donald Tugby.

    Jika benar Mandailing itu Batak, mengapakan perlu Todung Gunung Mulia dan kolonel tentera Belanda ini memaksa 14 orang Kepala-Kepala Kuria Mandailing yang merupakan keturunan dari raja-raja Mandailing untuk menandatangani pengistiharan di Kayu Laut bahawa Mandailing itu adalah salah satu ‘luhak’ atau daerah kecil dari wilayah bangsa Batak?

    Ini ialah kerana Todung Gunung Mulia dan kolonel tentera Belanda itu sendiri tahu bahawa Mandailing itu bukan Batak dan untuk menjadikan Mandailing itu Batak, mereka perlu memaksa 14 orang Kepala-Kepala Kuria Mandailing untuk menandatangani pengistiharan di Kayu Laut itu.

    Jelas strategi Gerakan Batak Mananggoring ialah mencuba melakukan fitnah besar dan penipuan licik yang memesongkan sejarah sebenar antropologi dunia.

    ‘If you lie to the people often enough, and if the lies were big enough, the people would eventually believe the lies.’ – Adolf Hitler.

    Syukur ke hadrat Allah s.w.t. yang mewujudkan pembela-pembela agamaNya di kalangan masyarakat Mandailing. Peristiwa Batak Mananggoring di Kampung Kayu Laut itu telah menimbulkan perasaan marah dan sakit hati masyarakat Mandailing terhadap fitnah dan penipuan paling besar di dalam sejarah antropologi dunia.

    Orang-orang Mandailing telah bersepakat di bawah satu panji iaitu persatuan Syarikat Mandailing yang ditubuhkan pada 31 Dis 1921 telah mengemukakan bantahan secara besar-besaran kepada Governor General of Batavia di Jakarta (Batavia).

    Oleh kerana pengistiharan Batak Mananggoring itu telah ditandatangan dan disahkan oleh Governor General of Batavia sebelum ini, maka Governor General of Batavia mengambil keputusan untuk membawa perkara itu untuk diadili secara adil dan saksama di Mahkamah Tertinggi Folks Road Batavia. Sebarang kesilapan dalam membuat keputusan tersebut boleh mencetuskan rusuhan kaum.

    Kerajaan Belanda pada masa itu merasa begitu serba salah. Jika mereka berkeras atas fakta palsu dengan membela Batak, maka satu rusuhan kaum akan berlaku. Jika mereka berkata benar dan memihak kepada orang-orang Mandailing, orang-orang Batak mungkin tidak akan menerima agama Kristian sebagai agama utama mereka dan kembali kepada agama animisme. Manakala pendakwah-pendakwah Kristian telah pun melobi habis-habisan agar susah-payah usaha kegiatan dakwah mereka kepada orang-orang Batak tidak menjadi sia-sia.

    Lantaran itu berlakulah pertarungan di antara Mandailing dan Batak di muka pengadilan Mahkamah Tertinggi Folks Road Batavia pada tahun 1922. Bagi tujuan perbicaraan tersebut, kerajaan Belanda terpaksa memanggil seorang pakar antropologi yang mengetahui sejarah semua suku bangsa di Indonesia yang bernama H. Van Wageningen.

    H. Van Wageningen menyatakan dengan jelas dan tegas bahawa Mandailing itu sama sekali tidak sama serta bukan sebahagian dari Batak. Mandailing mempunyai wilayah bangsanya yang sangat luas dan bukan dari ‘luhak’ atau daerah kecil serta mempunyai identitinya tersendiri.

    H. Van Wageningen dan Majlis Sidang 14 Kepala-Kepala menjelaskan bahawa Mandailing itu hanyalah terdiri daripada 9 buah marga sahaja dan tidak lebih dari itu;

    a. Nasution

    b. Lubis

    c. Pulungan

    d. Batu Bara (bukan Batu Bahara Lima Luhak dari Sumatera Timur)

    e. Rangkuti

    f. Dauley

    g. Parinduri

    h. Dalimunti

    i. Matondang

    Akhirnya selepas 4 tahun anak-anak Mandailing bertarung sengit berjuang demi maruah bangsa dan masa depan agamanya, maka pada tahun 1926 Mahkamah Tertinggi Folks Road Batavia memutuskan bahawa maka Mandailing menang dalam perbicaraan itu dan Mandailing itu bukan sebahagian daripada Batak ataupun wilayahnya. Mandailing tetap Mandailing. Batak tetap Batak.

    Justeru itu mana-mana golongan Mandailing di Nusantara Melayu yang memberikan nama marganya yang berbeza dari 9 marga asal di atas, maka mereka bukanlah kaum Mandailing. Kesemua 9 marga tulin di atas telah diperakui dan disahkan oleh keputusan Mahkamah Tertinggi Folks Road Batavia pada tahun 1926 serta dinyatakan dengan jelas di dalam surat penyataan oleh Majlis Sidang 14 Kepala Kuria yang merupakan keturunan dari raja-raja Panusunan di Mandailing Godang di Tanah Besar Sumatera. Keputusan ini kemudiannya diperakui, disahkan, diaktakan serta diwartakan oleh kerajaan Indonesia.

    Mana-mana pihak yang cuba menafikan kesahihan 9 marga Mandailing di atas, maka ia bererti mereka akan menghadapi dan menentang keputusan Mahkamah Tertinggi Folks Road Batavia pada tahun 1926 dan surat penyataan oleh Majlis Sidang 14 Kepala Kuria yang merupakan keturunan dari raja-raja Panusunan di Mandailing Godang di Tanah Besar Sumatera.

  41. Membaca koment-koment sebelumnya dan di banyak blog lainnya, saya terharu sekaligus sedih. Terharu karena masih banyak Batak yang coba mencari jati dirinya, sedih karena hal yang sama pula.
    Seharusnya tulisan si Minang, yang walaupun rada-rada ngawur itu bisa “sedikit” menyadarkan kita bahwa kita Bangso Batak berada ditengah-tengah persaingan dengan umat lain. Sadarlah!

    Untuk masalah Mandailing Batak atau bukan.
    Inti Batak adalah Dalihan Na Tolu, Mandailing pake ndak?

    Masalah siapa yang lebih dahulu ada, Batak atau Mandailing. Runut saja silsilah marga-marga orang-orang Mandailing, siapa ompungnya yang membawakan marga tersebut, kasarnya siapa induknya. Dimana leluhur/induknya tersebut lahir/bermukim/membuka perkampungan pertama sekali. Kalau tidak ketemu lagi, cari kuburannya/Tugunya dimana letaknya, pasti tugu tersebut masih berada di Kampung Halamannya. Contohnya, tugu marga Lubis itu ada di Lumban Gurning, sekitaran kota Porsea di Kabupaten Toba Samosir. Itu artinya Lubis itu berasal dari Toba, walaupun sekarang dia sudah tinggal di Mandailing, atau di Malaysia.
    Seharusnya, jadi Batak itu tidak bingung seperti pertanyaan di atas.
    Butima, Horas

  42. buja…………
    urut na mandokkon songoni ,
    hu pamate lalu halak nai
    batak do mandailing

  43. Majulah Bangsaku!
    Viva Batakland!

    Wassalam

    Horas 3x Buat Para Ipar!

  44. Saya sudah cari info tentang munda holing dan candi portibi, ternyata info itu tidak benar dan ditambah-tambahkan, bahkan info dari situs LAMA mengutip sebagian dari info tentang batak ASAL-USUL BATAK BIUS, lalu diplesetkan

    Batak sudah dicatat I Tsing juga Zhao Rugua sejak tahun 671 sama waktunya dengan catatan candi Portibi? Pa-ťa (Batak, in Sumatra or Malaya Pen.) Barbarous People’, which refers to a ‘Ba-ta’ dependency of Srivijaya, dates from the 7th century; a Chinese monk, I-Tsing

  45. horas . . . . .

    bangso batak terdiri dari 12 etnis ; TOBA, ANGKOLA, ALAS, KARO, MANDAILING, NIAS, PAKPAK, PARDEMBANAN, GAYO, SIMALUNGUN, TAMIANG.

    jadi jelas bahwa mandailing termasuk bangso batak.
    mari kita bersatu bangso batak

    horassss……

  46. Mandailing (lama) adalah bekas kerajaan Panai dimana dibangun candi-candi setelah penyerangan terhadap sriwijaya oleh Rajendara Cola 1025 M meliputi Angkola, Mandailing dan Pasaman. Suku Toba tidak terlibat didalam kerajaan Panai jadi Angkola dan Mandailing tidak Batak. Kalau ada warganya yang berasal dari Toba (Batak) itu lain masalah. Mandailing (baru) sekarang adalah Mandailing Godang dan Julu bergabung dengan Natal dimekarkan menjadi Kabupaten Mandailing Natal. Sementara itu Kabupaten Tapanuli Selatan dengan pemekarannya Paluta dan Palas adalah Angkola. Kedepan mereka akan bergabung kembali dalam Provinsi Sumatera Tenggara. Good Bye Batak…… Orang-orang Angkola dan Mandailing yang terlanjur menyatakan dirinya orang Batak akan malu sendiri atau tetap keras kepala…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.