Adapoen jang dinamai Mandailing itoe, adalah terbahagi atas doea bahagian: pertama Groot Mandailing dan Patang Natal: kedoea Klein Mandailing Oeloe dan Pakantan. Djoega radja radja pada kedoea loehak itoe berbahagi atas doea soekoe; jaitoe, radja radja Mandailing Besar bersoekoe “Nasoetion”, (nasaktion): ertinja soekoe kiramat, di Mandailing ketjil ialah soekoe (Loebis), maka nama soekoe loebis itoe, jang diambilnja dari pada nama sesaorang orang Poelau Soeloe namanja Si Angin Boegis, klak akan datang bitjaranja. Sekarang soedah 17 soendoet orang, telah laloe, adalah kedapatan diloehak Mandailing ini, doea radja yang termasjhoer; pertama Soetan Perampoen di Padang Garoegoer; kedoea Soetan Poeloengan di Oeta Bargot. Alkesah terseboetlah soeatoe riwajat, pada soetoe hari, pergilah Soetan Poeloengan radja Oeta Bargot jang terseboet berboeroe roesa, dengan beberapa pengiringnja. Takdir Allah menjalaklah andjingnja, jang bernama Sampaga-Toea, maka bereboetlah segala pengiringnja mengedjar perboeroean itoe, tiba tiba dilihat merikaitoe kiranja saorang anak laki-laki jang disalak andjing itoe, terletak diatas batoe, jang diboengkoes dengan kain soetera pelangi, dibawah sepoehoen kajoe beringin. Maka anak itoepoen diambil oranglah dan dibawak kepada Soetan Poeloengan, selaloe dibawak poelang ke kampoeng dan diberikan kepada saorang boedak perampoean namanja Saoewa, maka dipiaranjalah anak itoe dengan sepertinja.
Kata setengah riwajat, sebab si Saoewa tiada mempoenjai ajer soesoe, maka di soesoekannjalah anak itoe kepada saekor ……. jang sedang menjoesoekan anaknja, tempat itoe di namai (baoeroar), sebab itoelah anak itoe dinamai Nabaoeroar, tetapi setengah riwajat Nabaoeroar itoe diambil dari pada nama saorang laki laki jang didjadikan pengasoehnja anak itoe, maka Nabaoeroarpoen semakin hari semakin besar. Kata sehiboelhikajat, Soetan Poeloengan ada mempoenjai saorang anak laki laki jang sama besar dan seroepa dengan Nabaoeroar, baq pinang dibelah doea, sebab itoelah atjap kali orang kampoeng dan hamba hambanja, sesat memberi hormat dan memberi makan, oleh kerena itoelah mendatangkan tjimboeroe kepada Soetan Poeloengan dan isterinja. Hatta pada soeatoe hari, waktoe Soetan Poeloengan hendak menegakkan astana, maka diparentahkanja, soepaja Nabaoeroar dijadikan alas tiang di bosoer (tiang toea) astana itoe, dan diberi bertanda dengan tjoreng sadah dikenang Nabaoeroar.
Takdir Allah anak Soetan Poeloengan menjoreng keningnja poela dengan sadah, seperti tjoreng kening Nabaoeroar. Setelah Si Saoewa mendengar chabar behasa Nabaoeroar akan didjadikan alas tiang toea astana, maka dengan segira dibawaknja lari anak itoe dan bersemboeni pada seboeah dangau sawah jang tinggal, jang soedah dipaloet oleh akar-akar. Djadi ditangkap oranglan anak Soetan Poeloengan sselaloe dialaskannjalah ke tapakan tiang astanah roemah gedang, hingga mati. Waktoe hendak makan, riboetlah orang mentjahari anak Soetan Poeloengan itoe, maka tetekala ketahoean bahoea jang dialaskan itoe anak Soetan Poeloengan, maka orang tjarilah Nabaoeroar, tetekala merikaitoe sampai hampir dengau tadi, maka barboenilah boeroeng ketitiran diboeboengan dengan dangau itoe, djadi pada persangkaan orang itoe, tentoe tiada orang disitoe, bila beorang, njatalah ketitiran itoe, tiada berani hinggap di sitoe, maka kembalilah merikaitoe, sebab itoelah segala ketoeroenan Nabaoeroar marsabang (berpantang) makan boeroeng ketitiran, sampai kepada masa ini. Sjahdan nabaoeroarpoen dibawak lari oleh si Saoewah ke seberang Aek Gadang (Batang Gadis) sehingga damai poroemahan itoe “parbagasan babiat soboeon”, itoelah tempat peroemahan astana Panjaboengan Tonga jang sekarang. Tjerita ini dipendekkan sahadja, kerena banjak dalamnja tjerita jang tiada kena oleh akal, apa lagi penoelis bermaksoed sekedar bergoena boeat taal-land-en volkenkunde sadja. Di sitoelah Nabaoeroar di gelar Soetan di Aroe, dan meradjai doea kampoeng jang dinamai anak ni Dolok anak ni Lombang. Tempat itoelah pertengahan pada segenapo kampoeng jang berkoeliling disana, maka orang perboeatlah tempat itoe, tempat perdjoedian saboeng ajam, sebab itoelah tempat itoe orang namakan Panjaboengan sampai kepada masa sekarang. Lama kelamaan tempat itoe, mendjadi ramai, dan lagi Soetan di Aroe, sangat ditjinta oleh anak boeah, kerena boedinja sangat baik, dan amat ditakoeti orang, sebab persangkaan orang Soetan di Aroe anak dewa. Soenggoehpoen Soetan Poeloengan soedah tahoe,bahasa Nabaoeroar ada di Panjaboengan, tetapi ia tiada berani lagi, hanja berdendam sahadja didalam hatinja.Apakah sebab Nabaoeroar seroepa dengan anak Soetan Poeloengan itoe?Soenggoehpoen penoelis memaaloemi hal itoe, akan tetapoi beratlah rasanja akan menerangkan itoe, melainkan terseboet didalam tambo, Nabaoeroar anak dari Iskander Sjah. Itoelah laksana hikajat Toeankoe, Pagar Roejoeng, jang asalnja dari boeah kerambil nioer gading jang di pandjat oleh Salamat Pandjang Gombak; dimanakah nioer gading itoe sekarang? Maka oleh kerena saktinjalah Nabaoeroar itoe, diseboet orang soekoe Nasoetion. Adapoen Soetan di Aroe itoe, mempoenjai saorang anak jang amat berbahagia ialah Baginda Mengaradja Enda, Baginda inilah jang mengembangkan dan memasjhoerkan keradjaan Panjaboengan. Masa Baginda inilah Soetan Perampoean Padang Garoegoer dialahkan perang. Adapoen perang ini asalnja, dari saorang boedak Baginda bernama ompoe ni Mangaroeng terboenoeh di Loemban Koeajan (Soeroematinggi Ankola Djae) oleh Radja Bengkas, soedara dari Soetan Perampoean. Dalam perang ini, adalah 4 radja radja serikat melawan Baginda; jaitoe, Padang Garoegoer, Soetan Mendeda, Oeta Bargot, Radja Goemanti Porang, Pidoli Dolok, Radja Sordang Nagori, Pidoli Lombang, lagi dibantoe saorang panglima jang amat bernai, Baroeang sodang-dangon, namanja, orang dari Moera Tais Ankola Djae. Pada peperangan ini, menanglah Baginda Mengaradja Enda, oleh kerena Baroeang Sodangdangon, panglima jang terseboet di atas berchianat, dan djoega oleh kerena kegagahan saorang poetera Baginda jang bernama Soetan Koemala Sang Jang di Partoean Radja Oeta Siantar. Adapoen Soetan Koemala Sang Jang di Pertoean orang seboet anak dewa djoea, kerena boroe loebis Roboeran Dolok isteri jang pertama dari Baginda Mangaradja Enda, soedah toea, tetapi beloem berpoetera. Dengan takdir Allah hamilah permisoeri itoe dengan tiada di samai oleh Baginda, hal ini mendatangkan tjimboeroean baginja.Pada soeatoe malam diintai oleh Baginda pada astanah permaisoeri itoe, maka terlihatlah oleh Baginda datang soeatoe tjahaja merahapi kepada permaisoeri itoelah jang djadi bapak oleh Sang Jang di Pertoean. Alkesah waktoe poetoes waris radja di Loemban Sibagoeri, didjepoet oranglah Sang Jang di Pertoean mendjadi radja di Loemban Sibagoeri, maka diantarlah ia kesana dengan segala adat kebesaran, sebab itoelah Loemban Sibagoeri ditoekar nama dengan Oeta Siantar, sebab radjanja, jang diantar kesana. Masa itoelah Mandailing besar terbahagi atas doea bahagian 1e; Mandailing Djoeloe, 2e Mandailing Djae; segala jang taaloek kepada Sang Jang di Pertoean dinamai Mandailing Djoeloe dan segala jang taaloek kepada Baginda Maharadja Enda dinamai Mandailing Djae, dan diwataskan di Batoe Gondit dan Ajoeara sidjoembe Porang. Waktoe perang Padang Garoegoer soedah selesai, maka tjerai berailah segala radja jang 4 serikat itoe. Soetan Perampoean dan anak soedaranja Radja Iro Rongit Sigongonan lari ke Aiti (Tamoese). Fihak Maharadja Tinaja tinggal di Mompang, itoelah ketoeroenannja Kepala Koeria Aek na Ngali jang sekarang. Radja Goemanti Porang dan Sordang Nagori lari ke Rao, ketoeroenan itoelah Toeankoe Laras Sontang dan Tjoebadak, dan Soetan Mandeda tinggal di Oeta Bargot djoega, sekarang soedah djadi djadjahan Penjaboengan. Adapoen kepada koeria Pidolo, Goenoeng Toea, Baringin, Maga, Moeara Sama dan Moeara Perlampoengan ialah ke toeroenan Soetan Koemala Sang Jang di Pertoean Oeta Siantar. Adapoen sekalian radja radja (kepala boemi poetera) di keresidinan Tapanoeli jang teroetama sekali, banjak berboeat bakti kepada daulat Gouvernement, ialah radja radja Mandailing, sebab menoeloeng Gouvernement waktoe perang paderi, dan beberapa jang ternama di dalam perang Bondjol dan Rao, seperti regent Radja Gadoembang, jang di Pertoean kota Siantar, Gegar Tengah Hari Limo Manis, d. l. l., apa lagi sampai sekarang amat bersetia dan berchadamat kepada Gouvernement. Sedjak keradjaan Baginda Mangradja Enda dan Sang Jang di Pertoean, sampai sekarang, termasjhoerlah tanah Mandailing sampai kemana mana, hingga orang Batak, jang pergi merantau kemana mana menjeboetkan jang ia orang Mandailing djoea, sebab pada negeri lain lain, orang beloem kenal. Kata sahib berita, pada masa keradjaan Madjopahit ditanah Djawa, adalah saorang Nachoda, orang dari Poelau Soeloe bernama si Angin Boegis berlajar ke Tanah Djawa, maka menjaboenglah nachoda itoe disana. Dalam perdjoedian menjaboeng ajam ini, ia selaloe kalah, hingga habis hartanja, tetapi pada soeatoe hari dapat oleh si Angin Boegis toeah ajam poesakanja, jang dinamakan “Idjo bingkoeang poetih boetan toekang Madjopahit”. Adapoen sebab dinamainja toeah ajam itoe boeatan toekang Madjopahit, sebab pada koetika ajam itoe diboeboeh orang, kedapatanlah padanja didjaitkan orang Madjopahit, bidji sawi hitam. Maka ajam si Angin Boegis inipoen menang hingga kembali segala kekalahannja, sampai sekarang toeah ajam jang terseboeat, menjadi poesaka bagi ketoeroenannja ditanah Mandailing. Maka si Angin Boegispoen kawinlah ditanah Djawa beroleh anak laki laki, Raden Patah namanja. Raden Patah inilah pergi berlajar ke Sumatra pesisir Barat dan mengadoe kerbau dengan radja Pagar Roejoeng, itoelah atsal nama Menang Kerbau. Sesoedah Raden Patah kalah dari pada mengadoe kerbau itoe, maka berlajarlah ia meneodjoe sebelah oetara dan meninggalkan saorang anaknja di Moeara Sjngkoeang bernama Namora Pandai Besi. Namora Pandai Bosipoen moediklah ke hoeloe sampai ke Siondop jang sekarang, akan tetapi ia tiada tinggal disana, sebab disitoe soedah ada radja ketoeroenan Toean Tongga Magek Djabang dari Pariaman., Ranggar Laoet namanya, itoelah ketoeroenan Siondop dan Soeroematinggi Ankola. Namora Pandai Bosi, singgah di Partihaman dekat Losoeng Batoe sekarang, dan ia mendjadi saorang doekoen jang sangat dihormati orang. Sjahdan pada soeatoe hari, adalah radja dari Pidjorkoling, mendapat penjakit keras sekali, maka dipanggillah Namora Pandai Bosi akan mengoebati radja itoe, setelah dioebatinja radja itoepoen semboehlah dari penjakitnja. Namora Pandai Bosi memintak djadi selimoet jang lebar, jaitoe sapotong tanah, itoelah Loboe Sitardas jang dekat Tolang sekarang. Maka Namora Pandai Bosi mendirikan kampoenglah disana dan mendjadi radja disitoe, lagi ia sangat pandai didalam pekerdjaan toekang besi, sampai sekarang masih banjak keris boetannja jang djadi poesaka bagi ketoeroenannja dan kepada orang lain djoega. Kata Sahiboelhikajat, maka pada soeatoe hari, Namora Pandai Bosi pergi menjoempit boeroeng ke Ajoeara na bobar namanja, [sepoehoen kajoe baringin]. Maka Namora Pandai Bosi, menjoempitlah dari satoe tempat jang soedah diperboeatnja diatas dahan kajoe baringin itoe, maka banjaklah jang soedah djatoeh boeroeng jang di soempitnja itoe, laloe toeroenlah ia, tetapi saekorpoen tiada diperolehnja, djadi hairanlah ia memikiri hal itoe maka bersemboenilah ia laloe menjoempit poela, tetekala boeroeng itoe djatoeh, nampaklah padanja datang saorang perampoen mengambil boeroeng jang djatoeh kena soempit itoe.Setelah Namora Pandai Bosi, melihat perampoean itoe, maka toeroeanlah ia, laloe ditangkapnja perampoean itoe, hingga regang meregang, achirnja perempoean itoe membawa dia keroemah bapanja, dan iapoen kawinlah dengan perempoean itoe. Kata setengah riwajat perampoean itoe anak Loeboe, kerena sekarang pada goenoeng barisan jang bersamboeng dengan goenoeng disitoe, terdapat beberapa Loeboe. Tetapi pada pendapat penoelis ini, boleh djadi dari anak oarng boenian, kerena sekarang adalah terdapat, jang diseboet orang kampoeng, orang siboeniandi Naboendong djalan ke Padang Lawas, bertentangan dengan kajoe baringin jang terseboet diatas. Sesoedahnja hamil perampoean itoe, Namora Pandai Bosipoen kembalilah ke kampoengnja. Setelah genap boelannja, dilahirlah anak Namora Pandai Bosi, kembar, jaitoe doea orang laki laki jang dinamai oleh maknya Si Baitang dan Si Langkitang. Sesoedah Si Baitang dan Si Langkitan beroemoer 16 tahoen maknjapoen menjoeroeh merikaitoe mentjahari bapanja; maka pergilah merikaitoe mentjahari bapanja, Namora Pandai Bosi. Lama kelamaan sampailah merikaitoe di Loboe Sitardas, dimana kampoeng bapanja. Maka maaloemlah bagaimana besar hati Namora Pandai Bosi waktoe ia tahoe, bahoea kedoea anak itoe anaknja. Adapoen Si Baitang dan Si Langkitang, tinggallah dengan bapanja, bekerja toekang besi. Oleh ketjakapan dan kepandaian kedoea anak itoe, maka tjimboeroeanlah isteri Namora Pandai Bosi jang toea, kerena pada sangkanja, tentoe anaknja nanti terbelakang dan Si Baitang serta Si Langkitang termoeka. Oleh sebab itoe, setiap hari ditjatjinja kedoea anak itoe dan dikatanja anak bintjatjak, anak bintjatjau, anak singiang ngiang rimbo, anak dapeq ditepi bandar. Oleh kerena maki dan nista itoe, moefakatlah kedoea anak itoe akan pergi dari sana laloe pergilah merekaitoe minta idzin dari bapanja, dan bapanjapoen memberi idzin, dan memberikan tandoek kerbau moering dan saboeah soempitan; maka kedoea barang itoe, kiranja telah diisi oleh Namora Pandai Bosi dengan emas, soepanja bininja djangan tahoe ia memberikan emas itoe. Maka pergilah merikaitoe dan tinggal berladang diloear kampoeng, tiada begitoe djaoeh dari kampoeng itoe. Waktoe Namora Pandai Bosi meninggal doenia datanglah Si Baitang dan Si Langkitang membawa saekor kerbau akan toeroet berkaboeng, dalam hal itoe, isteri Namora Pandai Bosi dan anak anaknja tiada memberi idzin merikaitoe masoek dikampoeng Sitardas, maka dipotongnja kerbau jang dibawa merikaitoe diloear kampoeng itoe, diikatnja dimana sapoehoen kajoe bangsa patai, jang poetjoeknja dihantakkan ketanah, sampai kini dahan kajoe itoe semoeanja mengadap kebawah, jang orang namai poehoen itoe “rampa simanoenggaling”.Setelah selesai dari pada jang demikian itoe, maka pergilah merikaitoe mentjahari tempat, dimana ada bersoea moeara batang ajer jang bertentangan, kerena sepandjang oesiat bapanja Namora Pandai Bosi. Maka bersoealah merikaitoe dengan moeara batang ajer bertentangan di Kota Nopan, maka tinggallah merikaitoe disitoe mendirikan kampoeng, itoelah kampung jang dinamai Si Ngengoe. Si Baitang tinggal di Si Ngengoe, itoelah ketoeroenan Kepada koeria Si Ngengoe, Tambangan dan Soeroematinggi, dan Si Langkitang pergi arah kemoedik, itoelah ketoeroenan kepala koeria Tamiang, Manambin, Pakantan Lambah dan Pakantan Boekit; demikianlah tambo kedoea ketoeroenan ini ditoelios dengan ringkas sahadja menoeroet karangan Radja Moelia.***
DIarsipkan di bawah: Marga
Saya ingin tahu mengenai salasiah Raya Brayun yang dikatakan berasal dari Mandailing.
Marga Lubis Berasal muasal dari Bugis? ini merupakan akal2an sebagian orang Mandailing untuk mencoba menyangkal bahwa Lubis itu berasal dari Toba. Lubis itu asalnya dari Toba masih masuk kumpulan Borbor Marsada…semenjak memeluk agama Islam orang2 Mandailing merasa diri paling terdidik dan melihat bahwa sodaranya2 tertinggal dan memalukan bila masih memakai idntitas Batak…berbagai macam cara termasuk dengan memanipulasi legenda marga dilakukan agar Mandailing itu bukan Batak, suatu manipulasi paling hebat yang pernah dilakukan…bahwa ada unsur Bugis yang ikut menggabungkan diri menjadi marga Lubis itu tak tertutup kemungkinan, tetapi dengan mengatakan Lubis dari Bugis itu adalah kebohongan sejarah…kalau ga percaya tes saja DNA marga Lubis Mandailing dengan Toba sekalian juga dengan orang2 Bugis
Boleh juga tuh test DNA … tapi sebelumnya datang aja dulu ke Mandailing dan berinteraksi intens dengan masyarakat di sana, agar tahu banyak tentang siapa orang Mandailing itu. Ciri-ciri fisik orang Mandailing itu macam-macam sobat: ada yang seperti Keling, Arab, Siam, dll. Pokoknya orang Mandailing itu semuanya pendatang ke Mandailing dan kemudian disatukan oleh adat istiadat yang mereka buat sendiri yaitu Dalian Na Tolu, bukan Dalihan Na Tolu. Makanya di Mandailing itu anak laki-laki disebut si Lian atau si Dali, yang asal katanya adalah kata Dalian yang artinya ‘tumpuan”, bukan “tungku”.
Hebat sekali ya Dalian Na tolu orang mandailing, orang arab siam keling disatukan oleh adat yang mirip Batak tapi tetep kekeh bukan Batak, kayaknya Bang Edi ingin mengatakan semua orang Mandailing adalah pendatang dari Arab Bugis Minang Keling tapi yang terpenting dari segala pendatang itu bukan Batak…hehehe dan lalu kumpulan pendatang itu bikin adat dengan yang sama bunyinya “Dalian Na Tolu” kayaknya orang Mandailing ingin mengatakan kayaknya ga ada samasekali tuh unsur Batak di Mandailing???? malah sebagian mengaku-ngaku keturunan iskandar the great yang menurunkan marga Nasution yang adatnya samasekali tidak ada hubungannya dengan dalian na tolu,malah orang Minang yang matrilineal dianggap salah satu unsur pemekaya Mandailing??? btw ini hanya pendapat saja, kalo tetep kekeh Mandailing bukan Batak yah silahkan saja, saya hormati itu walaupun agak2 aneh juga mendengarnya…saya kasih ilustrasi orang Arab dan Israel walaupun bermusuhan masih merasa satu “Punguan” yaitu keturunan Nabi Ibrahim salam Hormat buat Bang Edi Nasution Horas!!!
Kenapamasih ada yang mempertentangkan masalah asal usul mandailing???? Apa maksud semuanya???Toh semua silsilah yang ada di tanah tapanuli tidak ada yang bisa membuktijan secara pasti kebenarannya. termasuk penulis Tuanku Rao. Bagi si Manurung gak usah urus tarombo orang lain karena tarombo diturunkan terus menerus dari bapak ke anaknya. Jika ada perbedaan antara tarombo mandailing dengan toba, ya sahsah saja. Saya tidak pernah menyalahkan tarombo marga lubis yang berasal dari toba karena memang ada lubis dari toba bagaimana prosesnya ya wallahua’lam. Kalau di Mandailing jelas bahwa marga Lubis merupakan keturunan Namora Pande Bosi (Daeng Malela nama kecilnya) yang merupakan keturunan dari si Angin Bugis berasal dari Bugis Sulsel. INI YANG PALING PENTING bahwa di Sulsel sampai sekarang masih banyak orang yang memakai nama LUBIS. Marga Nasution merupakan keturunan dari Nabauroar ( Si Baroar) yang berasal dari tanah Minang tadak usah lihat tentag Alexander The greatnya.
Jadi anggaplah semua itu merupakan kekayaan budaya di Indonesia yang harus dilestarikan. Orang Mandailing dengan Mendailingnya dan orang Toba dengan ketobaannya.
Horas Putra Mandailing
] btw Marga Anda sapa yach cantumin dong marganya, masa sebagai Putra Mandailing tidak bangga mencantumkan marganya sendiri?
Iya, waktu itu belum ane tau detail Kemandailingan
Memang seharusnya tidak usah dipertentangkan asal usul mandailing, waktu itu aku udah diskusi dengan Edi Nasution tentang Mandailing dan perbedaan2nya, sudah jelas sekarangbahwa Mandailing beda dengan Toba (peace Bro
Horas Bro
Saya orang mandailing asli, Ayah nasution Umak saya lubis. Tapi dimanapun bumi saya pijak, saya dengan bangga selalu mengatakan kalau saya orang Batak!!! lebih tepatnya batak mandailing. Saya lahir dan besar di tanah mandailing, dan saya juga Muslim tulen, tapi tetap saya bangga menyebut diri saya sebagai orang batak. Kalau anda tidak setuju dengan saya, forum diskusi terbuka lebar untuk itu. Agama takkan membuat saya lari dari sejarah nenek moyang saya yang sesungguhnya.. Horas ma di hita sudena!!
R. K. Nasution. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Bagaimana si partomuan ini dibantaah Putra Mandailing saja langsung merivisi (macam bukan orang Batak aza), kalo aku sih ingin menambahkan saja
kayaknya Putra Mandailing ga konsisten:
“Toh semua silsilah yang ada di tanah tapanuli tidak ada yang bisa membuktijan secara pasti kebenarannya. termasuk penulis Tuanku Rao” lalu dilanjutkan si Putra dengan
“Kalau di Mandailing jelas bahwa marga Lubis merupakan keturunan Namora Pande Bosi (Daeng Malela nama kecilnya) yang merupakan keturunan dari si Angin Bugis berasal dari Bugis Sulsel.” kontras ga sich ???
——–> hehehe ini mah juga wallahua’lam dari mana taunya? becanda si Putra ini
Si Baroar diketemukan di hutan , kok tau ya bayi itu berasal dari Minang ? emangnya dia lagi makan rendang? sehingga tahu dia dari Minang???
——–>ini juga mah walahuallam
Mandailing memang lebih dulu dikenal sejak jaman kitab Nagarakertagama. tapi masyarakat mandailing kertagama itu bukan leluhur langsung mandailing sekarang, liat saja tulisan2 yang di candi2 di padanglawas atau dimanaupun di tapanuli selatan,emangnya pake tulisan ato bahasa mandailing????
trus kalo bilang aksara2 awalnya dari selatan kemudian menyebar ke utara sehingga intelektual duluan di mandailing, ini mah ga menunjukkan apa2 toh yang bikin aksara itu orang India bukan mandailing
Trus kalo emang terbukti berasal dari Bugis ato minang kenapa tidak sekalian saja AKU ini bugis ato minang? kok pake identitas mandailing2an yang budayanya mirip2 Batak,emangnya kata HORAS dari bugis? ato minang?
tradisi bermarga juga bersal dari India bukan arab, kata MARGA saja dari INDIA, tetapi kayaknya konsep MARGA BATAK berbeda dengan INDIA ataupun ARAB, di kedua negara itu takada larangan kawin satu marga sedangkan di Batak & Mandailing ada
dan setahu saya ga ada tuh Jong Mandailing Bond adanya Jong Batak Bond , yang berarti jaman dulu saja sejak jaman perjuangan orang mandailing memang menyembunyikan identitas dirinya???? Parlindoengan LUBIS yang pernah ditahan di kamp NAZI ternyata aktif di Jong Batak, berarti dia BATAK
Buatku Batak dan MAndailing sama,sebleum Kristen atau Islam dua2nya pemuja leluhur (sipelebegu) dua2nya sama budayanya,cara beragamanya sebelum masuk kristen ato islam sama. Jadi yang bilang mandailing bukan batak adalah tidak benar
wah baru tau saya, mana yang benar karena selama ini saya menganggap orang mandailing itu batak
buat saya batak ato mandailing sama,orangnya keras, punya tradisi kekerabatan yang sama,,bermarga n bahasa yang sama dan dulunya kalo ga salah sama2 pemuja leluhur (sipelebegu) bedanya hanya sekarang agama di utara sebagian kresten di selatan hampir semuanya muslim
Horas!!
Kenapa harus malu dianggap sebagai orang Batak? Aku sendiri justru merasa bangga karena aku ini orang Batak dari Mandailing! kenapa pula harus buat2 rekayasa sejarah terhadap bangsa kita sendiri? Kalau memang kita orang orang Mandailing, ya orang Batak lah kita! asal-usul ya jelas dari Si Raja Batak! apa urusannya sama Bugis?!
Horas kita semua bangsa Batak!
Sependapat dengan Syafril Lubis….
kita galang persatuan bangsa kita, bukan kita dibuat pecah oleh penjajah kita dulu dengan cerita sejarah bohong itu.. kalau kita orang mandailing bukan bangsa Batak kenapa kita pakai sistem kekerabatan Dalihan Natolu?
Menarik sekali cerita dongeng tersebut… orang Mandailing dibilang punya asal moyang berbeda dengan bangsa Batak… ah tapi saya bukanlah termasuk Lubis yang seperti di cerita anda.. saya justru Lubis yang moyangnya bersal dari Si Raja Batak dan bukan dari Bugis ataupun daerah-daerah lain. Saya akui orang Mandailing punya perbedan dengan Batak Toba.. tapi itu bukan alasan untuk saya sehingga mau ikut berperan serta memecah-belah persatuan bangsa Indonesia.. Semua sub suku Batak memiliki perbedaan2 tapi semua itu masih satu rumpun dan satu asalnya.
Buat yang merasa asal kalian berbeda silahkan, tapi jangan buat perpecahan untuk bangsa Indonesia.
Terbentuknya sebuah suku memang tidak harus dengan adanya kesamaan keturunan, bisa saja terjadi dengan adanya pembauran dari pendatang kedalam masyarakat suku yang sudah ada saat itu. Bisa saja leluhur marga Lubis dan Nasution ini memang berasal dari luar Tapanuli, namun pada saat itu pasti sudah ada “penduduk asli” (iya dong, ga mungkin 2 orang itu bisa jadi raja tapi ga ada rakyatnya) dan kedua orang tsb kemudian “masuk” kedalam lingkungan penduduk asli dan mengikuti adat istidat penduduk asli. Nah, Lubis dan Nasution tetap dapat disebut sebagai suku Batak (sebagai penduduk asli saat itu) jika memakai proses tsb. Bahkan kemungkinan besar kedua orang tsb diangkat anak oleh penduduk asli. Untuk proses pengangkatan anak ini, dalam suku Batak, maka anak angkat tsb tetap akan dimasukkan ke dalam tarombo keluarga yang mengangkat (diakui sebagai keturunan). Ini dapat ditelusuri dari sejarah marga2 di Toba dimana banyak terdapat marga2 yang merupakan anak angkat dari marga yang lebih tua. Bukan tidak mungkin juga pada saat itu Lubis diangkat anak oleh lingkungan marga Borbor, dan Nasution oleh marga Siahaan/Pohan.
Proses pembentukan suku ini juga hampir mirip dengan yang terjadi di suku Batak Karo, dimana orang2 Keling/India masuk menjadi Karo (marga Sembiring) setelah kawin mawin dengan penduduk asli dan mengikuti adat penduduk asli.
Namun jika kemudian marga Lubis dan Nasution enggan mengaku sebagai Batak (dengan alasan tidak memiliki kesamaan asal usul keturunan dengan orang Batak lainnya) itu sah2 saja (tapi untuk marga Lubis di Tapsel tolong melakukan perbandingan dengan marga Lubis di Taput mengenai asal usulnya) namun sebaiknya tidak membawa marga2 lainnya seperti Siregar, Harahap, Hasibuan, dll, yang mana mereka semua mengakui berasal dari daerah Toba pada awalnya.
Akhir kata, ini hanya masukan terhadap saudara2ku yang berasal dari Tapsel yang emoh disebut Batak. Entah kenapa, padahal kita memiliki kesamaan bahasa, gondang, ulos, dan adat Dalihan Natolu yang agung itu..
Saya marga Lubis, ibu marga Nasution .. saya orang batak mandailing.. asal batak saya itu ya dari Toba… cerita2 tentang asal-usul orang mandailing yang dibuat itu tidak masuk akal… Menurut saya, cerita tersebut dibuat-buat untuk menggalang orang mandailing sehingga mereka merasa asal mereka situ serumpun dengan melayu dan mereka serumpun dengan malaysia! setelah lagu, batik, dsb sekarang mereka mau ambil budaya kita! Maka bukalah wawasan pikirian kita untuk menjalin ke kompakan sesama Batak!!!
Kenapa mau ikut berperan serta memecah belah persatuan bangsa cuma karena masalah perbedaan agama? kalau memang kita bangsa batak ya bangsa bataklah kita… Bangsa batak mandailing tidak perlu dibuatkan tarombo baru, sudah ada kok di pustaha-pustaha batak..
Saya putra mandailing jelas sebagai putra batak. Saya bermarga lubis. Hamonangan dan manurung, maaf ya saya tidak pernah membedakan antara batak dengan mandailing tetapi toba dan mandailing yang sama-sama sub etnis BATAK. saya hanya memberitahu tarombo yang secara umum dipakai oleh orang mandailing yang tidak saya pakai karena tidak logis. Dalam keluargaku, kami hanya memakai tarombo yang berasal dari Sri Mangaraja Batak (mungkin berbeda dengan yang umum) yang hidupnya sekitar abad ke 13 di sianjur sagala limbong pusuk buhit dekat danau toba(tarombo ini juga tidak ada yang bisa membuktikannya 100 %). Jadi secara tarombo yang sya pakai jelas saya orang batak. Untuk orang mandailing malaysia itu mungkin banyak istilah yang berkaitan dengan istilah SulSel (Bugis) seperti Daeng semua kata-kata itu berasal dari bahasa nenek moyang batak yang berasal dari daerah sekitar burma dan thailang termasuk juga gelar yang dipakai banyak di tanah batak mangaraja dan lainnya. Untuk orang batak agama apapun dan dari manapun, kalau kita bersatu, aku yakin kita akan menguasai indonesia ini dan memakmurkan negeri ini. Orang batak sudah banyak yang terpecah belah karena masalah sepele.
he he..
artikel-artikel yang gak jelas sumbernya (gak berdasarkan penelitian) mending gak usah ditampilkan lah..
Provokatif, Konyol, dan jelas Menyedihkan…
Toh kita bangsa batak bukan bangsa yang super..
Kok masih ada aja yang dengki ya..pengen mecah belah suku ini…
Dan yang lucunya, kok masih ada yang percaya dengan cerita-cerita versi malaysia lah, bugislah, india lah dll…
Kok bisa ya dengan bodoh nya bilang mandailing bukan batak???
what’s wrong with you guys..??? wake up!!!
Liat diri ajalah..berkaca!!!
muka kita emang bersegi..but,,so what gitu loh!!!
ngomong kita keras/kasar???
keren dong, dolby stereo..so what gitu loh…
BATAK IS BATAK…!!!
hehehehehe
setelah bertahun2 di bodoh2in belanda…sekarang orang2 mandailing ini mau pulak lah lagi di bodoh2in ma malingsia……
dalian = tumpuan dalihan= tungku…. suatu argumen yang paling lucu yangpernah ku dengar dan baca.
edi nasution ikut2an malingsia … karena cm malingsia yang mau sponsorin buku tulila nya sehingga menjual diri dan sejarah ke orang2 eks batak yg ada dimalingsia yang ingin diakui dan diseterakan dgn melayu….
batak di bungkus dgn apapun ttp batak…
batak tak mungkin jadi melayu… jadi jahudi atau jadi arya
bangga lah akan batak,,, karena BATAK ITU KEREN
molo hamu sude mempermasalahkan bangso batak , ise do mandailing manang ma batak toba i, mahua sude angka halak batak hita mempermasalahkannya. unang songoni hamu sude, dang maila rohammu sude , molo adong do naeng permasalahkan bangso batak , godang do hape masalah di indonesia di si. eta bangkit san keterpurukan. bege hamu sude angka halak batak. alusi jolo bah tu rohammu ate. mauliate.
Horas Batak mandailing…….
Botul madai kahanggi nami A. nasution, tapi untuk mencari kebenaran dan pencerahan nggak apa-apa lah.
Kalau analisa saya yang masih membeda-bedakan Mandailing dengan batak, perlu dipertanyakan itu, Apa untungnya dia, katanya mandailing tidak batak, aneh bin ajaib, pernah disolimin Batak ya, kacian deh.
Jangan demi hepeng , sejarah diperjual belikan.
Apa bedanya sih Dalihan Na Tolu dengan Dalian Na Tolu, ha-ha sama kan,
Kita di mandailing aja logatnya bisa beda antara mandailing Godang dan mandailing Julu, janganlah suka mencari celah yang nggak logis.
Saya tetap batak mandailing sampai mampus,,,,,
horas di hita be halak mandailing..
dah capek kalilah Raja Sisingamangara XII berjuang untuk gak mau diadu domba Bolanda (si bontar mata)..sampai mau dikasi pun gelar SULTAN ma Raja itu dia tetap menolak hingga titik darah terakhir..karna sampai kapan pun BATAK adalah BATAK.. ada kehormatan ada DALIHAN NA TOLU.
buat semua daerah,berbeda agama itu wajar berbeda pendapat itu wajar asal ada di jalur saling menghormati..TAPI BATAK TETAPLAH BATAK..bukan jahudi,bukan amerika juga bukan inggris..
gitu aja..
horas..
cantik2…daerah di mandailing,panyabungan,sipirok dll..tapi karna BATAK bangsa bule gk brani sronok2 di sana…ini bukan BALI men.!!!ini bukan JAKARTA men..!!!..ini wilayah orang BATAK..ada kehormatan.
kan luar biasa tradisi dr leluhur kita…biar generasi BATAK bangga dengan nenek moyangnya.jangan lah malu menjadi BATAK..banyak hal yang dibanggakan dari BATAK.
horas..
Aku bangga menjadi orang batak-mandailing,
Horaass….
Mandailing=Daerah
Batak=Suku,
Di perantauan, orang biasanya mengidentikkan batak = Keristen,keras,
menurut saya itu yang membuat orang mandailing merasa gerah di sebut orang batak. Jangan malu mengakau kamu orang batak, kasih penjelasan biar orang mengerti, Batak itu Suku, bukan agama.
Saya masih mencari keturunan saya di Rantau Prapat .
Saya ingin mecari keturunan “Pendita Alam. Satu daripada anak nya berada di Malaysia. Namanya Kunchu Manap (sudah meninggal duhia) Kalau saudara tahu tolong email terus kepada saya:
mendeling2002@yahoo.co.uk
Horas
kenapa mesti kita permasalahkan sih?/ perbedaan2 itu wajar….sub suku di SUMUT aja ada sekitar 12 sub (tdk perlu saya sebutkan 1 by 1) nah sekarang begini aparah, kahanggi, lae, manang naise pe taho…knp hanya antara mandailing dan toba aja sih yg adu argumen tentang BATAK??????? Knp Karo,Pak pak, Dairi, Simalungun, Nias dsb… ga ada masalah, emangnya asal sodara2 kita itu dari mana???? Orang karo, pak pak, simalungun aja ada yg ga mau dibilang batak….itukan sah2 saja…tp yg terpenting untuk marga lubis…apa mgkn berasal dari bugis…? saya lebih cenderung berpendapat bahwa sodara2 kita yg bermarga lubis pergi merantau ke sulawesi makanya ada yg bermarga lubis di sana…masa lebih banyak lubis di SUMUT daripada di Sulawesi kalo emg asalnya dr sana?nah coba kita amati dgn logika ya…Na denggan boti na tumbur Tano Rura Mandailing Tano Sere na tarbonggal Tarbonggal tu jae-julu Na denggan boti na tumbur Tano Rura Mandailing Batang Gadis manomburkon Santak mate u opkop do….makasih…