Duka Itu Masih Berlanjut

Pasaman – Pasca gempa 30 September lalu hingga kini masih meninggalkan masalah, terutama bagi Kabupaten Pasaman. Musibah demi musibah yang diprediksi para ahli berkaitan langsung sebagai dampak gempa besar itu terus terjadi dan mengancam ketentraman masyarakat.

Akibat hentakan gempa yang besar, banyak bukit-bukit yang mengitari Pasaman retak hingga sering terjadi longsor. Hujan sedikit saja dalam sehari, tak pelak ada saja daerah yang mengalami longosr. Tak jalan yang putus akses dibuatnya, sawah atau ladang masyarakat yang hancur. Bagitu benarlah dampak gempa 30 September lalu yang hingga sekarang masih dirasakan. Baca selebihnya »

Dua Koto Terima Bantuan dari Depdagri

Pasaman- Tahun 2010 mendatang sebanyak 12 kecamatan di Kabupaten Pasaman akan menerima bantuan dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MP) dari pemerintah pusat melalui Departemen Dalam Negeri (Depdagri).

Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Pasaman, Mara Ondak   di kantornya mengatakan,bantuan tersebut diberikan secara khusus oleh pemerintah pusat untuk melanjutkan pembangunan yang berbasis masyarakat di Pasaman dengan target tujuan peningkatan kesejahteraan rakyat.Disamping itu juga bentuk apresiasi pusat terhadap Pasaman atas keberhasilan pembangunannya dalam beberapa tahun terakhir ini. Baca selebihnya »

Rehat Kopi: Hanya Sebuah Cerita

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang pendekar wanita, Butet.
Sebelum lulus dari Pandapotan silat, ia harus menempuh ujian. Agar bisa berkonsentrasi, dia memutuskan untuk menyepi ke gunung dan berlatih.

Saat di perjalanan, Butet merasa lapar sehingga memutuskan untuk mampir di Pasaribu setempat. Beberapa pemuda tanggung yang lagi nonton sabung ayam sambil Toruan, langsung Hutasoit-soit melihat Butet yang seksi dan gayanya yang Hotma itu. Tapi Butet tidak peduli, dia jalan Sitorus memasuki rumah makan tanpa menanggapi, meskipun sebagai perempuan yang ramah tapi ia tak gampang Hutagaol dengan sembarang orang. Baca selebihnya »

Batak kah Mandailing Itu….????

Banyak sejarah yang mengatakan Mandailing bukan Batak, tetapi banyak pula orang Batak yang menyanggahnya. Mereka gotot Mandailing merupakan sub bagian dari Batak.

LALU BAGAIMANA DENGAN ANDA, MANA MENURUT ANDA YANG BENAR. BATAK ATAU TIDAKKAH MANDAILING ITU????, SEBAGAI ORANG MANDAILING KITA HARUS PUNYA IDENTITAS JANGAN MAU DI PLESETKAN.

Membangun Kabupaten Pasaman Berbasis Industri Kecil dan Menengah

Oleh : Juardi Lubis.ST *)

Seperti kita ketahui, Kabupaten Pasaman adalah salah satu daerah otonomi di Propinsi Sumatera Barat dengan tingkat kemiskinan cukup tinggi. Kabupaten Pasaman beriklim tropis basah, dengan suhu berkisar 20 C – 31 C, curah hujan rata-rata adalah sebesar 3.102 mm/tahun dan jumlah hari hujan rata-rata 142 hari dalam setahun. Sebagian besar daerah ini ( 82) berupa hutan lindung, selebihnya berupa lahan produktif (18%). Tata guna hutan berdasarkan surat keputusan Menteri Pertanian No. 683. tahun 1982 ditetapkan hutan PPA seluas 40.787 hektar, hutan lindung seluas 218.480 hektar, hutan produksi seluas 76.313 hektar hutan konversi seluas 94.141 hektar dan lain-lain seluas 275.383 hektar. Namun kabupaten pasaman adalah salah satu daerah dengan kandungan sumberdaya alam yang sangat banyak,mulai dari potensi tambang yag tersebar di hampir seluruh kecamatan akan tetapi berada dalam hutan lindung yang dilarang untuk dieksplorasi namun terdapat juga sumberdaya alam hayati seperti minyak jilam, gambir, pisang, salak dan juga kakao, yang kalau dikembangkan dengan tepat akan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Baca selebihnya »

Sejarah Mandailing

Saya yakin, kalo kita orang asli mandailing sudah pernah membaca asal usul Mandailing, tidak akan pernah setuju jika Mandiling dikatakan sub suku Batak. Tidak ada sejarahnya yang mengatakan Mandailing pecahan dari suku Batak. Kecuali tulisan iseng dan ingin ingin menjadi tuannya Mandailing. Berikut saya lampirkan beberapa tulisan yang dikutip dari beberapa buku Sejarah Mandailing dan juga tulisan yang pernah dimuat beberapa situs seperti http://rahimtahir.tripod.com/id9.html yang juga membahas sejarah Mandailing. Baca selebihnya »

Identitas Mandailing Sudah Hilang

Oleh: Andika Lubis
Untuk apa bertengkar, buat apa beradu pendapat tentang Mandailing, sementara orang lain saja tidak tahu. Faktanya, sekarang Mandailing itu sudah kehilangan identitas. Mandailing sekarang hanya pelengkap deretan jenis suku yang ada di Indonesia.
Tulisan dengan judul “ Tambo Raja Mandailing” yang di exspose blog ini mendapat respon dari para pembaca. Muncul ketegangan, ada perbedaan pendapat, sanggahan, dan terbit pula masukan. Hal ini terbukti, Mandailing mempunyai nama, derjat yang tinggi dan tentu saja mempunyai orang di dalam sukunya. Tambo, yang menjadikan sejarah Mandailing , tambo juga yang melahirkan nama Mandailing.

Suatu hal yang hingga kini belum bisa di jawab. Yakni, sebuah tradisi orang non Mandailing. Batak, Mandailing, Jawa, Minang, Sunda, Nias, Karo merupakan suku-suku yang berbeda sejarah dan adat serta bahasa yang berlainan pula. Tapi, bila orang luar menganggap, kata Mandailing tidak pernah ada. Orang Jakarta mendengar bahasa orang mandailing berbicara selalu memponisnya dengan orang Batak. Orang minang mendengar orang Mandailing bercerita, selalu menganggap orang itu Batak. Tak pernah sekalipun mereka menyebut itu orang Mandailing, bahasanya Mandailing. Sedangkan orang Batak beicara yang lain sepakat itu orang Batak, tidak berubah pula jadi Mandailing. Seperti layaknya orang Mandailing divonis jadi Batak. He..he Baca selebihnya »

Pak, Kapan Kami Merdeka???

Pasaman, Singgalang
Beginilah nasib bila tak ada listrik, lampu togok atau strongkeng menjadi alternatif. Yang canggih, bertambah canggih tapi itu tak berguna bagi mereka. Seandainya ada orang bertanya, bagaimana sih lampu listrik itu?. Masyarakat Kecamatan Mapat Tunggul Selatan, Kabupaten Pasaman akan menggelengkan kepala sambil berkata tidak tahu. Pasalnya, walau sudah menjadi kecamatan, yang namanya listrik PLN mereka belum punya.

Apalagi ditanya masalah konseleting, jelas mereka akan bertambah bingung dan melongo. Mungkin, di kecamatan ini pula akan terlihat keaslian malam hari, seperti kegelapannya, suasana hening, sayup-sayup memantik api lampu togok. Sudah lama sudut negeri itu ada, selama itu pula mereka terisolasi. Negara sudah lama merdeka, tapi belum sedetikpun merdeka itu mereka rasakan. Baca selebihnya »

Pembangunan Pedesaan, Lampu Togok Menemani Wawa Menghafal

Oleh: Suryandika
Hanya lampu togokPASAMAN
– “Ini Budi, ibu Budi pergi ke pasar, tiba di pasar ibu Budi membeli telur, telur direbus dalam kuali, kualinya hitam sekali.”
Begitulah Wawa, seorang bocah lelaki kelas I SD terbata-bata belajar membaca di rumahnya malam hari bermodal penerangan hanya sebuah lampu togok (lampu minyak -red) yang telah usang. Sesekali terlihat ia menggosok matanya. Ia adalah warga Desa Kampung Baru Sawah Ujung, Buah Keras, Keca­matan Dua Koto, Pasaman, sekitar 50 Km Lubuk Sikaping arah Talu.Wawa anak pasangan Abdul dan Eng ini, belajar ditemani oleh kakak-kakaknya, Nawir, Melia dan Sesi. Kampung itu sepi. Maklum di tengah sawah. Tak terdengar apa-apa, hanya angin malam yang mendesau. Dari rumah papan, tempat mereka tinggal, membias cahaya lampu minyak. Pucuk api diayunkan angin yang masuk serampangan. Baca selebihnya »

Tower Telkomsel itu Sering Mati!!

Dua Koto–Tower pemancar telepon seluler milik Telkomsel yang terletak di Kec. Dua Koto, Kab. Pasaman sepertinya hanya sebagai tower tinggi yang mejulang bak pencakar langit. Fungsinya sebagai sentral sinyal hanphone belum maxsimal.
Sejak tower ini di operasikan, luapan gembira masyarakat sekitar tak tanggung-tanggung. Namun hal itu hanya berlangsung beberapa hari, kegembiraan mereka berubah jadi kecewa. Itu disebabkan ser­ingnya tower telkomsel ini mati dan tidak berfungsi.
Elvi salah seorang warga beberapa waktu lalu menyebutkan, satelit pemancar jaringan telkomsel ini selain jang­kauannya yang pendek juga sering mati-mati dengan alasan dari petugas disana yang tidak jelas. Yang lebih parahnya sejak  satu minggu terakhir. Padahal katanya kebutuhan masyarakat akan penya­lur informasi ini sangat tinggi.  “Hidup satu hari, mati satu  minggu,” katanya. Baca selebihnya »